Jakarta, Indonesia | Wednesday, 25-04-2018

NEWS UPDATE

AS Tuding Rusia Sedang Rencanakan Serangan Siber

RWS | Selasa,17 Apr 2018 - 14:57:01 WIB

Ilustrasi Gambar/foto ist

CityPost – Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih, Agen AS, Pusat Keamanan Nasional Inggris dikabarkan saat ini tengah membahas terkait adanya rencana serangan siber yang diduga akan dilakukan oleh pihak Rusia.

Kemungkinan peretasan global yang dilakukan peretas Rusia ini lantas muncul sebagai peringatan pasca AS dan Inggris kerap melakukan monitoring ancaman peretasan selama setahun silam.

Melansir pemberitaan dan laporan Washington Post pada Senin (16/4) kemarin. Pemerintah AS dan Inggris tengah menduga rencana serangan siber yang akan dilakukan Rusia akan mensasar sistem komputer secara masif diseluruh dunia. Mulai dari komputer rumah hingga penyedia jasa internet yang diretas untuk tujuan mata-mata dan kemungkinan sabotase.

“Kami meyakini Rusia merancang serangan siber yang menyasar rumah tangga dan bisnis. Apa yang saya dan anda miliki dirumah bisa jadi sasaran peretasan,” ujar Kordinator Keamanan Siber Gedung Putih Rob Joyce.

Dia juga menyebutkan bahwa jutaan pengguna komputer di seluruh dunia dikabarkan tidak akan luput dari ancaman peretasan Rusia.

Senada dengan Rob, Kepala National Cyber Security Centre (NCSC) Ciaran Martin yang notabene merupakan bagian dari agen intelejen Inggris GCHQ menyampaikan bahwa pihak Rusia merupakan musuh terberat dalam dunia siber. Hal itu disampaikan saat diwawancara dengan Independent dan awak media lainnya.

Menurut Ciaran Martin, ancaman siber Rusia ini pertama kali diungkap oleh Badan Keamanan Siber Amerika Serikat. Ancaman ini juga diyakini akan berpengaruh kepada Inggris dan dapat mengacaukan sektor energi.

“ini adalah serangan berkelanjutan yang menargetkan sederet entitas. Kami percaya Rusia ada dibalik ancaman serangan siber. Tujuan peretasan bisa saja untuk keperluan spionase dan digunakan untuk kepentingan mereka. Jutaan perangkat diseluruh dunia terancam dan peretas bisa mengambil alih kontrol konektivitas,” tegas Martin. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar