Jakarta, Indonesia | Tuesday, 11-12-2018

NEWS UPDATE

Bahaya Sexting Remaja, Orangtua Diminta Waspada

RWS | Selasa,17 Apr 2018 - 14:55:39 WIB

Ilustrasi Gambar/foto ist

CityPost – Era kebebasan digital saat ini banyak yang menganggap sebagai fenomena positif dalam penyebaran dan perkembangan pola kebebasan informasi. Masyarakat dengan mudahnya bisa mengakses informasi apapun dengan cepat dan dalam satu genggaman tangan.

Namun, dari trend perkembangannya, digitalisasi juga dianggap bisa merusak dan banyak memicu hal negative, khususnya perkembangan dari generasi remaja yang dikatakan saat ini rentan disusupi oleh informasi-informasi miring yang bisa merubah pola pikir mereka dan berimbas pada proses transisi kedewasaan mereka.

Seperti halnya saat ini terkait adanya wabah Sexting yang melanda para remaja dengan digitalisasi yang mereka miliki.

Journal JAMA Pediatrics pada edisi Maret lalu tengah merilis laporan bahwa dari studi kompilasi 39 proyek riset terpisah antara Januari 1990 hingga Juni 2016, menggunakan sebanyak 110 ribu partisipan yang berusia 11 hingga 17 tahun, Sexting remaja kerap terjadi. Satu dari empat remaja disimpulkan pernah mengirimkan pesan seksual atau Sexting melalui ponsel pintar mereka.

Melansir kesimpulan Studi tersebut, diperoleh data bahwa adanya peningkatan jumlah remaja yang terlibat dalam pengiriman dan menerima, baik foto, video ataupun tulisan bernuansa seksual yang bisa langsung diakses ke ponsel mereka.

Disebutkan remaja terlibat Sexting sebagai bagian dari upaya mereka dalam mengekspresikan dan mengeksplorasikan ketertarikan mereka pada orang lain saat berinteraksi satu dengan yang lainnya.

Guru Besar Psikologi Universitas Texas, Doktor Jeff Temple menyampaikan bahwa mereka melakukan hal itu karena sebagian besar dari kawan-kawannya juga melakukan hal yang sama yang akhirnya mereka anggap hal itu merupakan suatu kewajaran.

“mereka tidak sepenuhnya paham, karena banyak teman sebaya mereka yang melakukannya, mereka menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar. Ini sangat mengkhawatirkan. Mereka menganggap itu sebagai cara berkomunikasi dewasa ini,” terang Jeff.

Menurut Jeff, kendati saat ini mereka tahu apa yang mereka lakukan beresiko namun tetap saja mereka melakukan Sexting pasalnya ada bagian diotak yang disebut frontal lube yang membuat keputusan.

“Ada bagian otak yang disebut frontal lube, yang membuat kita membuat keputusan yang baik. Pada remaja, bagian itu belum berkembang dengan baik. Akibatnya remaja, memiliki kontrol yang rendah atas apa yang mereka lakukan,” tukasnya.

Hal ini berbahaya dan menurut Doktor Jeff orang tua harus lebih proaktif dan mewaspadai wabah tersebut dan diminta untuk melakukan pengecekan kepada ponsel anak-anak mereka dan terlibat dalam kehidupan digital mereka. Hal itu dilakukan bukan sebagai bentuk hukuman melainkan sebagai upaya bagaimana mengajarkan mereka cara berkomunikasi yang aman didunia digital.

Apa yang dilakukan remaja, Sexting remaja, pengiriman foto, video dan tulisan berbau seks akan membahayakan. Tidak menutup kemungkinan apa yang mereka kirimkan dimanfaatkan pihak lain untuk memeras dan mengancam.

“Saya ingin orang tua mengecek ponsel anak-anak mereka. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengajarkan mereka bagaimana cara berkomunikasi yang aman didunia digital,” ucap Jeff. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar