Jakarta, Indonesia | Friday, 16-11-2018

NEWS UPDATE

BNN Akan Ubah Ladang Ganja Menjadi Objek Wisata

GRY | Senin,19 Mar 2018 - 18:03:46 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Lhokseumawe, CityPost - Banyak penemuan lahan hijau yang menjadi ladang ganja di Aceh, terutama di Kabupaten Bireun, membuat Badan Narkotika Nasional (BNN) berencana untuk memasukkan kawasan tersebut ke dalam Grand Design Alternative Development (GDAD) yang merupakan langkah BNN yang dicetuskan Mantan Kepala BNN Budi Waseso pada Oktober 2017. 

Kepala BNNK Bireun Saiful Fadhli mengatakan, langkah tersebut bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa ladang ganja bisa dialihfungsikan sebagai ladang sayuran, buah, sampai objek wisata alam, sehingga menjauhkan masyarakat dari konsep menanam tanaman narkotika.

"Desa Meunasah Bungo, Kecamatan Peudadada, Kabupaten Bireun, memiliki potensi besar untuk dijadikan objek wisata. Ada bukit dengan pemandangan sawah, hutan, dan lautan. Selain memiliki bentangan alam yang indah, di desa tersebut ada kerajinan rotan rumahan," ujarnya di Lhokseumawe, seperti yang dilansir Senin (19/3/18).

Saiful berharap GDAD dapat menekan angka produksi tanaman narkotika dan memberi nilai ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Selain Bireun, langkah GDAD yang diproyeksikan hingga sepuluh tahun ke depan itu juga menyasar kawasan Aceh Besar dan Gayo Lues.

Sebelumnya. Budi Waseso meluncurkan program GDAD setelah membaca hasil survey BNN dan Puslitkes Universitas Indonesia yang menyatakan bahwa dalam kurun waktu 12 tahun terakhir, yaitu 2004 hingga 2016, penyalahgunaan narkotika di Indonesia didominasi oleh jenis ganja, dengan persentase menyentuh angka 44,5 persen.

"Peredaran ganja juga memicu peredaran narkotika lainnya, termasuk shabu. Dari informasi intelijen, telah terjadi barter antara ganja dan sabu melalui jalur-jalur tikus di aceh, sepanjang desa pinggir pantai di Sumatera, bahkan di Papua, dimana ganja dibarter dengan barang-barang selundupan," ungkap Budi Waseso, seperti yang dikutip dari situs resmi BNN.

Data Polda Aceh tahun 2016 menyebutkan 482 hektar lahan ganja telah dimusnahkan. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro mengaku cukup antusias atas langkah yang diambil oleh BNN ini. Menurutnya, program ini perlu untuk mendapatkan dukungan lintas sektoral. 

"Tetap harus ada yang diperhatikan, yang pertama tanaman harus memiliki nilai ekonomis, seperti kopi, kelapa, kakao dan tanaman pangan lainnya. Yang kedua, pentingnya target pasar yang jelas sehingga para petaninya tidak merugi. Artinya, secara ideal, para petani sudah memiliki target pasar seperti perusahaan besar yang menjadi mitra," katanya. (GRY/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar