Jakarta, Indonesia | Wednesday, 12-12-2018

NEWS UPDATE

Borneo Skycam Hadirkan Drone Berbahan Bakar Energi Matahari

AL | Senin,12 Mar 2018 - 21:47:45 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Pontianak, CityPost - Startup pengembang perangkat pengawas berbasis pesawat nirawak (drone), Borneo Skycam, menghadirkan drone berbahan bakar dari sinar matahari, asli bauatan putra Kalimantan Barat.

"Melalui proyek membelah langit khatulistiwa, kita saat ini tengah mengembangkan sebuah pesawat dengan lebar sayap 3 meter dan berbahan bakar sinar matahari. Dalam waktu dekat sudah kita akan lakukan uji coba," kata Ketua Tim Proyek, Hanjon Mahmudi di Pontianak, Minggu (11/2/18)

Hanjon dan beberapa rekannya yang mengembangkan drone ini menjelaskan bahwa Indonesia berada pada garis bayang 0 derajat dan berada pada daerah tropis yang memiliki limpahan sinar matahari sepanjang tahun. Selain itu, Indonesia berbentuk negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau sehingga sulit melakukan survey-survey ke daerah pelosok negeri.

"Kalimantan adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia. Demografi wilayahnya cukup unik, selain masih banyak didominasi oleh hutan, pulau ini juga berbatasan langsung dengan negara tetangga," ujarnya. 

Menurut Hanjon, medan yang menantang membuat pengawasan melalui udara menjadi lebih efektif, khususnya untuk kebutuhan militer, pengawasan perbatasan dan pertanian untuk pemetaan lahan. 

"Kondisi tersebut dilihat sebagai peluang oleh tim Borneo Skycam untuk pengembangan drone yang ada," imbuhnya.

Hanjon menjelaskan alasan Borneo Skycam membuat proyek bertajuk membelah langit khatulistiwa karena sampai saat ini, pengembang pesawat tanpa awak masih menggunakan baterai dan minyak sebagai bahan bakar utama, hal ini menguras waktu yang membuat waktu terbang yang hanya maksimal dua jam sekali terbang. Rencananya, proyek tersebut akan diluncurkan pada 21 Maret 2018 di Pontianak, kota yang dilewati oleh Garis lintang 0 derajat dan juga bertepatan dengan Titik Kulminasi matahari.

"Target dari proyek yang ada adalah terbang selama 16 jam dan live streaming di youtube pada view kamera pesawat. Harapan dari proyek tersebut adalah ke depan teknologi ini bisa digunakan untuk survei menjangkau daerah terluar Indonesia, kebutuhan militer, pemetaan wilayah luas serta alat telekomunikasi mobile," katanya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar