Jakarta, Indonesia | Monday, 21-05-2018

NEWS UPDATE

Demi Pemilu Sela,Trump Percikan Api Baru Di Yerusalem

RWS | Selasa,12 Des 2017 - 06:47:24 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump/ foto ist.

CityPost – Mantan utusan khusus Amerika Serikat atau negosiator  juru damai antara Israel dan Palestina yang notabene merupakan mantan Duta Besar AS untuk Israel Martin Indyk menyampaikan alasan Presiden AS Donald Trump mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel lebih kepada kepentingan politik dalam negeri menjelang Pemilu Sela tahun depan.

Faktor psikologis inilah yang dikemukakan oleh Indyk  sebagai landasan rasional keputusannya. Terkait Yerusalem, keputusan itu dikeluarkan demi menarik perhatian kaum Kristen Evangelis didalam negeri Amerika Serikat agar Trump bisa memenangkan Pemilu Sela tahun depan.

Menurut Indykm keputusan Trump tersebut sangat mudah dijelaskan dan benar-benar dilakukan karena pertimbangan politik dalam negerinya.

“Keputusan itu adalah ajakan kepada basis pemilih Kristen Evangalisnya, sederhana sekali,” tegas Indyk yang saat ini dikabarkan aktif sebagai Wakil Presiden Brookings Institution.

Sementara itu, senada dengan Indyk. Laman Lembaga Penyiaran Jerman, Deutsche Welle mengedepankan alasan Trump mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel kendati banyak mendapatkan kecaman oleh seluruh dunia bahkan sekutunya sendiri. Semua dikarenakan kepentingan politik praktis dalam negerinya.

Analisa yang hampir serupa juga disampaikan oleh Direktur Pusat Studi Timur Tengah dari Universitas California, Los Angeles (UCLA-red) Steven Spiegel. Dia mengatakan keputusan Trump ditujukan untuk menarik perhatian pemilih konservatif Kristen dan Yahudi. Selama kampanye pilpres tahun lalu, Trump sudah berjanji mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel kepada dua komunitas tersebut yang diketahui selama ini menjadi basisi pendukung setia Trump.

Keputusan tersebut juga ditengarai sebagai upaya mempertahankan kemenangan Partai Republik pada Pemilu Sela tahun depan. Pasalnya jika Trump menang dalam Pemilu Sela maka parlemen akan tetap dikuasainya atau dikuasai Partai Republik. Namun sebaliknya, jika pada Pemilu Sela yang menang adalah Partai Demokrat dipastikan tahun depan posisi Trump menjadi sangat berbahaya. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar