Jakarta, Indonesia | Tuesday, 25-09-2018

NEWS UPDATE

Dimintai Persetujuan Rawat Setnov, Dirut RS Media Heran

AL | Senin,16 Apr 2018 - 13:46:22 WIB

Direktur Utama Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Hafil Budianto Abdulgani.foto.ist

Jakarta, CityPost - Direktur Utama Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Hafil Budianto Abdulgani, hadir dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (16/4/29) hari ini, ia bersaksi untuk dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo, yang didakwa bekerja sama dengan advokat Fredrich Yunadi untuk menghindarkan Setya Novanto (Setnov) dari pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait perkara korupsi dalam pengadaan KTP-Elektronik.

Dalam kesaksiannya, Hafil mengaku heran ketika dimintai persetujuan terkait perawatan pasien bernama Setya Novanto pada 16 November 2017 lalu, hari itu, Setnov yang masih menjabat sebagai Ketua DPR mengalami kecelakaan di kawasan Permata hijau, Jakarta Selatan, sekitar pukul 19.00 WIB.

"Saya merasa heran kenapa harus direktur yang dimintai persetujuan mengenai pasien yang butuh rawat inap. Saya sedikit kaget karena sudah memberi kewenangan ke yang bersangkutan, kalau orang perlu dirawat, siapa pun, silakan saja," katanya.

Hafil mengungkapkan, permohonan tersebut disampaikan oleh Plt Manajer Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau, dr Alia Shahab yang meneleponnya pada 16 April 2017 ketika dia berada di Melbourne, Australia.

"Saya terima telepon Plt Pelayanan Medis dokter Alia, pertama pesan melalui WhatsApp, di sana seingat saya sudah magrib, pukul 19.00 waktu Australia, berarti sekitar pukul 14.00 lewat di Jakarta, katanya ada pesan penting, ingin bicara, dia katakan pengacara Setya Novanto menelepon dan minta Setya Novanto untuk dirawat dan memesan kamar," jelasnya.

Karena sedang berada di luar negeri, Hafil menyerahkan kepada dokter Alia untuk menentukan dokter yang menjadi penanggung jawab perawatan Setnov.

"Lalu saya dikirimi berita mengenai kejadian itu melalui WhatsApp. Saya buka pesannya beberapa hari setelah dikirim karena sibuk sekali. Saya dapat berita dari teman dan junior saya soal perkembangan berita," tuturnya.

Hafil mejelaskan, setelah mengetahui perkembangan Setnov dan keterlibatan dokter Bimanesh Sutarjo yang merupakan dokter paruh waktu di RS Medika Permata Hijau, ia kemudian berusaha menghubungi dokter Alia tapi tidak berhasil. 

"Beberapa kali saya hubungi nomornya tidak aktif setelah saya dengar soal rekaman Youtube soal kecelakaan. Saya baru bisa berbicara dengan dokter Alia tanggal 21 November," katanya.

Hafil menuturkan, saat berbicara dengan Alia, ia mendapat laporan bahwa dokter Michael Chia selaku dokter IGD pada 16 November 2017 tidak memberikan surat rawat Setnov di rumah sakit.

Saya sedikit heran dalam hal itu, tapi tiba-tiba dokter Alia menutup telepon," ungkapnya.

Saat kembali ke Indonesia pada 25 November 2017 dan Hafil langsung menerima semua berita acara dari staf, perawat, dokter yang terlibat dalam perawatan Setnov.

"Tapi dari dokter Bimanesh tidak ada, dokter yang melaporkan salah satunya dokter Michael yang menolak merawat Setnov karena ia belum melihat pasiennya tapi diminta memberi surat rawat," katanya.

Menurut Hafil, laporan-laporan tersebut kemudian dibahas di dewan direktur yang meliputi direktur utama RS Medika Permata Hijau, Direktur Utama RS Medika di Malaysia, Direktur RS Medika Bumi Serpong Damai dan direktur PT pada 2 Desember 2017.

"Di situlah saya dapatkan instruksi untuk meminta penjelasan dokter Bimanesh dan dijawab tertulis juga," ujarnya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar