Jakarta, Indonesia | Sunday, 24-06-2018

NEWS UPDATE

Dosen ITS Ciptakan Alat Penghitung Bakteri Tuberkulosis

AL | Selasa,16 Jan 2018 - 02:59:10 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Surabya, CityPost - Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Dr I Ketut Eddy Purnama menciptakan TB-Analyzer, alat ini dapat menghitung jumlah bakteri tuberkulosis secara akurat bahkan memotong waktu diagnosis selama berjam-jam

"Selama ini diagnosa tuberkulosis masih dilaksanakan secara manual, sehingga memerlukan waktu berjam-jam, karena dokter dan perawat masih menggunakan mata dengan menghitung adanya bakteri tahan asam atau BTA pada dahak penderita yang diletakkan di atas citra mikroskopik," kata dosen Departemen Teknik Komputer Fakultas Teknologi Elektro ITS ini.

Menurut Ketut, penghitungan ini seringkali tidak akurat, karena area yang diperiksa sangat luas sehingga tidak memungkinkan untuk menghitung jumlah bakteri secara teliti.

"Bayangkan ada 100 area, lalu kita memindahkannya satu-satu dengan tangan. Pasti nanti akan ada yang terlewat entah karena lalai atau lelah," ujar Kepala Laboratorium Sinyal Digital ITS ini.

Untuk memecahkan permasalahan tersebut, Ketut menggandeng tiga tim dosen lainnya untuk melakukan penelitian. Ketiga dosen tersebut adalah Dr Ir Arman Hakim Nasution dari Departemen Manajemen Bisnis, Dr Supeno Mardi Susiki Nugroho, dan Arief Kurniawan ST MT dari Departemen Teknik Komputer.

Setelah Ketut dan timnya melakukan penelitian lebih dari tiga tahun, akhirnya dihasilkan alat penghitung bakteri tuberkulosis yang diberi nama TB-Analyzer: Smart System to Count Tuberculosis Bacterial on a Sputum Smear Automatically. Alat ini merupakan sistem terpadu antara aplikasi perangkat keras dan perangkat lunak untuk analisis citra mikroskopik. Bagian perangkat kerasnya terdiri dari komputer jinjing yang terhubung ke mikroskop digital. Sedangkan bagian aplikasi mampu menginstruksikan untuk menggerakkan motor dan mendapatkan fokus pada bakteri agar mendapatkan puluhan gambar yang tidak tumpang tindih.

ketut menjelaskan, cara kerja alat ini, diawali dengan melakukan X-Ray pasien untuk menentukan apakah iaterjangkit TBC atau tidak. Ketika didiagnosa menderita TBC, dahak dari penderita diambil di atas preparat dahak, dikeringkan lalu dibakar untuk melelehkan bakteri yang berbentuk batang dengan lapisan lilin. Ketika pembakaran selesai, preparat diberi warna dengan menggunakan Ziehl Neelsen. Kemudian, preparat didinginkan dan diletakkan kembali di atas mikroskop digital. Nantinya, bakteri akan secara otomatis muncul di layar komputer.

"TB-Analyzer memiliki kemampuan yang akurat dan kuat dalam menghitung ratusan gambar bakteri serta mampu menghitungnya dalam berbagai macam skala gambar," tuturnya.

Namun, Ketut mengakui bahwa TB-Analyzer ini masih dalam tahap penyempurnaan.

"Kami masih akan menyempurnakan bagian mekaniknya terlebih dahulu. Setelahnya, produk ini akan mulai dipasarkan dengan menggandeng rumah sakit milik pemerintah maupun swasta, klinik, serta laboratorium penelitian," katanya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar