Jakarta, Indonesia | Sunday, 16-12-2018

NEWS UPDATE

FKMI: Komplain Prabowo Terkait Pemberitaan Sebuah Kewajaran

Hen | Kamis,06 Des 2018 - 23:44:58 WIB

Calon Presiden RI Nomor Urut 02 Prabowo Subianto/foto ist

Jakarta, CityPost – Mencuatnya kritikan dan keluhan yang dilontarkan Calon Presiden RI Nomor urut 02 Prabowo Subianto menurut Ketua Forum Komunikasi Media Independen (FKMI) Andre Irwansyah  merupakan sebuah kewajaran dan jangan disikapi berlebihan seolah menjadi hal krusial yang mewakili karakter atau watak seorang tokoh.

Andre mengatakan hal yang berkaitan dengan Pers, pemberitaan dan tokoh yang menjadi nara sumber adalah sebuah ikatan, saling erat dan harus dipererat satu dengan yang lainnya. Sebuah media dalam menayangkan materi pemberitaan tentunya punya sudut pandang dan penilaian tersendiri agar semua berita-berita yang disajikan bisa dikonsumsi publik dan mengedukasi.

Sama halnya dengan seorang tokoh yang merasa keberatan jika sebuah pemberitaan atau lebih mengangkat materi pemberitaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sitokoh selaku nara sumber. Semua merupakan hak sitokoh  itu sendiri. Peristiwa tersebut harus dilihat dari kacamata yang arif dan bijaksana.

“menurut hemat saya, sebagai nara sumber wajar Prabowo marah dan punya hak untuk mengkritisi, jika menilai banyak pemberitaan yang dirasakannya berat sebelah dan cenderung berita yang disajikan tentang dirinya selalu menyudutkan dan seolah hanya dicari-cari kesalahan agar bisa menjatuhkan dan membunuh karakter ketokohannya. Begitu juga Pers dan Media, dalam mengangkat berita dan memilih tema, mereka juga punya hak tersendiri dan tidak bisa diarahkan oleh siapapun dalam esensi independensi informasi,” terang Andre saat dihubungi wartawan CityPost pada Kamis (6/12) melalui sambungan telepon selulernya.

Kendati demikian, menurut Andre, baik buruknya seorang tokoh itu sudah sepantasnya menjadi sumber pemberitaan yang harus disajikan berimbang sesuai dengan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan kejadian atau peristiwa yang sesungguhnya terjadi dilapangan. Namun, dalam pertimbangan menayangkan berita itu sendiri, setiap media yang independen seharusnya melepas semua kepentingan politik praktis mereka.

“Walau nara sumber itu seorang tokoh politik, artis atau apapun juga profesinya, mereka harus menjadi dan dijadikan sebagai bagian tertinggi yang dihormati, pasalnya dari merekalah semua informasi bisa keluar dan diperoleh untuk kemudian disampaikan kembali kepublik sebagai informasi yang utuh dan mendidik,” tukasnya.

Andre menegaskan, Pers dan Media harus selalu memegang prinsip keberpihakan, tetapi keberpihakan itu bukan kepada kepentingan praktis atau hal lainnya. Keberpihakan itu hanyalah diberikan kepada kebenaran agar bisa disampaikan kepublik dengan benar dan bisa menjadi informasi penyeimbang atau penyejuk. Dalam hal ini, ada kode etik dan profesionalisme jurnalistik.

“media-media yang berpolitik praktis tentunya akan tergerus dengan sendirinya, karena esensi dari kehidupan media adalah kepercayaan publik. Untuk wartawan, kedaulatan jurnalistik merupakan kunci untuk tetap menjaga nilai profesionalitas dari pekerjaannya, jika semua tidak sesuai maka rakyat akan menilai dan tidak akan lagi memberikan kepercayaan penuh,” katanya.

Disebutkan, sebagai  Ketua FKMI, Andre memandang dan menyerukan kepada segenap insan pers untuk kembali kepada khitohnya, tidak berpolitik praktis dan cenderung menyajikan informasi yang berimbang serta menayangkan semua hal atau materi yang punya nilai berita. Karena semua materi yang memiliki nilai berita merupakan esensi awal untuk bisa ditayangkan.

“Semua media yang ada didalam FKMI selalu kami tekankan untuk menyajikan informasi berimbang dan mengacu pada esensi nilai berita. Apapun materi dan yang mereka peroleh dilapangan, selama itu punya nilai berita dan diperlukan untuk kepentingan publik maka wajib ditayangkan tanpa ada pertibangan apapun. Itulah esensi berita sesungguhnya yang selalu kami terapkan disemua anggota-anggota kami,” tukasnya.

Andre menegaskan, saat ini yang harus dikhawatirkan adalah keberadaan media-media diluar konteks Pers, seperti media sosial yang sebaran informasinya terkadang diluar jalur kepatutan dan tidak bisa dikontrol. Bahkan cenderung menyajikan informasi bohong dan berat sebelah serta membahayakan.

“yang bahaya adalah sebaran media sosial, lihat saja kasus pembantaian Rohingya yang kabarnya dipicu dari media sosial dan kasus-kasus lainnya diluar negeri. Inilah yang harus disikapi oleh semua stakeholder negeri ini, agar kejadian serupa tidak terjadi dinegeri ini,” tegasnya.

Diketahui sebelumnya, Prabowo Subianto tengah geram usai banyak media mainstream yang menayangkan berita tidak sesuai fakta dilapangan, khususnya saat perhelatan acara Reuni 212 di Monas pada Minggu (2/12) lalu. (Hen/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar