Jakarta, Indonesia | Monday, 21-05-2018

NEWS UPDATE

Gaya Hidup Halal Akan Majukan Ekonomi Syariah Indonesia

AL | Rabu,08 Nov 2017 - 13:14:41 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Surabaya, CityPost - Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017 yang berlangsung 7 - 11 November di Grand City Surabaya mendorong pengembangan ekonomi syariah yang difokuskan pada gaya hidup halal (halal lifestyle) yang akan membuat Indonesia mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang mengembangkan industri halal.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Difi A Johansyah menyatakan bahwa pengembangan ekonomi syariah harus berdasarkan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

"Halal lifestyle, terobosan baru dalam ekonomi syariah, tidak hanya harus dorong lembaga keuangan syariah ataupun perbankan," katanya dalam konferensi pers pelaksanaan hari pertama ISEF 2017, Selasa (7/11).

Menurut Difi, untuk mengembangkan industri gaya hidup halal, perlu menciptakan wiraswasta di sektor syariah. Saat ini, Bank Indonesia memperkuat ekonomi syariah melalui pemberdayaan pesantren dan bekerja sama dengan lembaga lain, seperti Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), akademisi, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah, di bawah koordinasi Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). 

Difi juga mencontohkan negara lain yang telah lebih maju dalam mengembangkan industri halal, seperti Thailand yang memproduksi makanan bersertifikasi halal, Australia mengekspor daging halal, Cina mengekspor busana muslim ke Timur Tengah, serta Korea dan Jepang yang banyak memproduksi kosmetik halal.

"Indonesia jangan hanya menjadi pasar, peluang kita sangat besar. Kebutuhan masyarakat harus halal, makanan halal, pakaian, juga wisata halal yang mulai dikembangkan. Potensi pasar halal ada," ujarnya.

Difi mengakui, menciptakan wirausaha di bidang industri halal bukanlah hal yang mudah. Karena itulah, 

Menurut Difi, memang tidak mudah menciptakan wirausaha di bidang industri halal. BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya mendampingi melalui pembentukan lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) dengan membantu membangun kapasitas, misalnya di sektor tertentu seperti industri pakaian, pertanian, makanan, dan lain-lain.

"Kita bisa kolaborasi, banyak institusi yang konsen di wirausaha. Kepastian halal danthoyibpotensinya, sudah terjadi di pariwisata halal, misalnya provinsi Nusa Tenggara Barat," imbuhnya.

Menurut Difi, pengembangan industri halal memiliki daya tarik sendiri. Ia mencontohkan Medan yang telah mengembangkan hotel syariah yang mengutamakan kebersihan sebagai nilai jual ekonomi syariah. Namun, tantangannya juga besar, terutama  dari faktor keamanan, keadilan, kejujuran, serta ada prinsip keadilan bagi produsen dan konsumen. 

"Kunci pengembangan syariah harus amanah dan keadilan penting sebagai pilar syariah," pungkasnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengungkapkan sejak 1990 Indonesia telah mengembangkan perbankan syariah. Namun pangsa pasarnya belum lebih dari 10 persen.

"Ini menimbulkan keprihatinan. Padahal kita negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia," katanya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar