Jakarta, Indonesia | Tuesday, 25-09-2018

NEWS UPDATE

Kapal Tanker PT Pertamina Srikandi Terbakar di Banjarmasin

AL | Jumat,25 Mei 2018 - 09:27:50 WIB

Insiden kebakaran kapal tanker milik PT Pertamina Srikandi di dekat Depo PT Pertamina (Persero) Banjarmasin, Jum`at (25/5/18).foto.ist

Banjarmasin, CityPost - Kapal tanker milik PT Pertamina Srikandi yang sedang sandar di dermaga Sungai Barito Muara Kuin, di dekat Depo PT Pertamina (Persero) Banjarmasin, Jumat (25/5/2018).

Menurut Kapten Kapal KM Rimau PDT 208, Sapri Eko yang pada saat kejadian berada di lokasi mengatakan, pagi itu, tiba-tiba sungai penuh dengan api.

"Saya tidak tahu pasti apa penyebabnya, tiba-tiba kapal tanker yang sadar sejak Kamis (24/5/18) siang, terbakar, dan tumpahan minyak memenuhi alur sungai," ujarnya.

Sapri menceritakan, saat dirinya masih terkejut melihat kapal yang terbakar itu, tak lama kemudian tercium bau menyengat dari sungai, dan dalam waktu sesaat, sungai dipenuhi dengan api.

"Tidak lama kemudian, api pun menyambar beberapa kapal, termasuk kapal saya, Rimau, yang tambat cukup jauh dari lokasi terjadinya kebakaran kapal Pertamina tersebut," tuturnya.

Menurut Sapri,  penyebaran api yang cukup cepat terjadi disebabkan oleh tumpahan minyak yang dibawa arus sungai

"Sungai tiba-tiba penuh dengan api dan langsung menyambar beberapa kapal yang lokasinya cukup jauh dari kapal Pertamina tersebut," katanya.

Saat memberikan keterangannya, nahkoda Kapal Tanker Srikandi, Lekius, mengatakan api diduga berasal dari belakang kapal yang berjarak sekitar 30 meter dari tempat tankernya tambat. Menurutnya, pada Jum`at sekitar pukul 02:00 WITA dini hari, mualim 2 yang berjaga mencium bau menyengat seperti bau bensin. Tak lama kemudian, ada api yang berjarak sekitar 30 meter dari buritan kapal tanker, yang saat itu sedang bongkar muatan ke depot Pertamina di Kuin Banjarmasin.

"Begitu muncul api dari belakang kapal, dengan cepat api tersebut menjalar ke air dan menyambar kapal kami yang waktu sedang bongkar," tuturnya.

Lekius menceritakan, saat itu api membesar dengan cepat sehingga sebanyak 18 orang yang terdiri dari 15 ABK, satu orang surveyer dan dua orang pengawas yang sedang ada di kapal, langsung menyelamatkan diri.

"Waktu itu, api langsung membesar, sehingga tidak mungkin lagi kami melakukan pemadaman, seluruh petugas langsung menyelamatkan diri dengan mencebur ke sungai," ujarnya.

Tidak lama kemudian, datang nelayan yang menolong dan segera membawa seluruh ABK ke lokasi yang aman. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, hanya satu orang yang hingga kini masih syok, menyaksikan peristiwa itu. Lekius mengaku tidak bisa memastikan asal api tersebut, namun petugas jaga melihat api berasal dari belakang kapal, bukan dari kapal.

"Yang kami bongkar saat itu kan solar, tetapi sebelum terjadi kebakaran, yang tercium adalah bau menyengat bensin, saya tidak tahu pasti apa yang terjadi," katanya.

Lekius menuturkan, kapal Srikandi yang ia nahkodai, datang dari Kotabaru pada Rabu (23/5/18) dini hari, dengan memuat sekitar 4 ribu KL solar. Saat peristiwa kebakaran itu terjadi, seluruh ABK sedang membongkar solar, untuk disalurkan ke Depot Pertamina di Muara Kuin.

"Kira-kira saat terbakar, solar yang harus kami bongkar masih tersisa seribu KL," ujarnya.

Saat ini, seluruh ABK sedang berada di Polairud untuk keperluan penyelidikan terkait peristiwa kebakaran ini. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar