Jakarta, Indonesia | Friday, 14-12-2018

NEWS UPDATE

Kapal TNI AL Temukan Longsoran Dasar Laut di Palu

AL | Jumat,12 Okt 2018 - 19:17:40 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - KRI Spica-934 menemukan adanya longsoran dasar laut pada kedalaman 200-500 m di Tanjung Labuan/Wani Teluk Palu saat melakukan survei dan pemetaan pasca gempa dan tsunami di perairan Teluk Palu. KRI Spica-934 merupakan alah satu kapal TNI AL yang diterjunkan Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal).

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jum`at (12/10/18) Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan, hasil data ini diperoleh KRI Spica setelah melakukan survei full covered dengan menggunakan Multibeam Echosounder EM-302 yang mampu mengukur kedalaman hingga 6000 M di dalam Teluk Palu.<br

"Hasil yang diperoleh Tim Pushidrosal ini dibenarkan oleh Pakar Tsunami Dr Gegar Sapta Prasetya dan Dr Rahman Hidayat yang ikut on board di KRI Spica dan menyebutnya sebagai `submarine slumps` yang diperkirakan sebagai asal kekuatan tsunami tersebut," ujarnya.

Laksmana Muda Harjo yang juga merupakan Indonesia Chief Hydrographer ini menambahkan, KRI Spica juga mengecek kemungkinan adanya spot kedangkalan di mulut teluk dan menambah area pemeruman di luar perairan Teluk Palu.

"Hal ini bertujuan memperkuat data untuk pembuatan peta tematik mitigasi bencana," katanya.

Menurut Harjo, data akuisisi terbaru dari Pushidrosal tentunya dapat memberikan informasi dasar laut yang lebih detail mengingat kemampuan `Multibeam Echosounder` yang digunakan menghasilkan sapuan `batimetri full coverag`. Setiap perubahan topografi dasar laut dapat digambarkan dengan lebih jelas.
Ia mengatkan, bagi pemerintah pusat, data dan informasi ini menjadi dasar membuat kebijakan bagaimana melakukan prediksi proses-proses geologi ke depannya serta menjadi informasi penting dalam usaha mitigasi bencana pasca gempa disertai tsunami dimasa yang akan datang. Sedangkan bagi Pemerintah Daerah di Provinsi Sulteng dan pemkot Palu, data tersebut dapat digunakan dalam perencanaan pembangunan kembali infrastruktur disekitar pesisir serta penataan kembali rencana detail tata ruang. Hardjo menyebut longsoran tanah di bawah laut ini sangat sulit diprediksi meski berbagai alat deteksi dini telah dipasang.

"Terkadang ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu menjelaskan seluruh kejadian dipermukaan bumi ini. Sebagai bangsa yang berkeyakinan adanya kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, hendaknya tidak mengabaikan akan kekuasan dan ketetapan-Nya, maka hendaknya upaya yang harus kita lakukan adalah dengan berusaha semakin mendekatkan diri kepada-Nya dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita agar bisa dihindarkan dari berbagai bencana alam yang sekarang dirasa semakin meningkat," tutur Harjo. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar