Jakarta, Indonesia | Friday, 16-11-2018

NEWS UPDATE

Kawah Gunung Ijen Masih Letupkan Gas Beracun

AL | Jumat,23 Mar 2018 - 18:04:33 WIB

Kawah Gunung Ijen di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur.foto.ist

Banyuwangi, CityPost - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga Jum`at (23/3/18) masih merekomendasikan untuk penutupan jalur pendakian Gunung Ijen, baik untuk wisatawan maupun para penambang belerang karena di kawah Gunung Ijen masih terjadi aktivitas letupan gas beracun yang dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan pendaki dan penambang. 
Kawah Gunung Ijen memiliki ketinggian 2.368 meter dari permukaan laut yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur.

"Kondisinya masih sama dengan yang kemarin yakni terjadi letupan yang menyebabkan munculnya material gas, namun hari ini gas tersebut masih diambang batas normal. Sedangkan kejadian pada Rabu (21/3/18) malam itu gas yang keluar kawah melebihi ambang batas," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ijen Bambang Heri Purwanto di Banyuwangi, Jawa Timur.

Bambang mengaku pihak petugas PPGA tidak bisa memantau kawah Ijen secara visual karena kamera pengintai yang ditempatkan masih terhalang kabut, namun data yang terekam dalam seismograf menunjukkan adanya gempa vulkanik dangkal dan gempa vulkanik dalam.

"Gempa vulkanik dangkal tercatat sebanyak 20 kali dan gempa vulkanik dalam sebanyak satu kali, padahal batas normalnya untuk gempa vulkanik dangkal berkisar 1-5 kali, jelasnya.

Bambang memastikan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap bualan atau letupan gas di kawah Gunung Ijen karena karakteristik gunung itu dapat mengeluarkan gas yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan jenis letusannya tipe freatik atau lemah.

"Memang sempat terjadi letusan dengan tipe freatik atau lemah dua hari lalu yang sempat didengar oleh para penambang belerang, namun justru yang berbahaya dari Gunung Ijen adalah gas yang dikeluarkan akibat letupan di dalam kawah," tuturnya.

Heri mengatakan letupan itu ada pada malam dan siang hari, namun gasnya langsung terurai oleh matahari saat siang hari dan yang berbahaya justru jika letupan terjadi pada malam hari karena tidak terlihat secara langsung sehingga harus diwaspadai.

"Setiap tahun, gas beracun itu muncul pada musim hujan, terutama pada bulan Januari hingga Maret karena permukaan suhu dingin, namun di dalam kawah panas, sehingga terjadi bualan atau letupan yang membawa material gas yang berbahaya," ujarnya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar