Jakarta, Indonesia | Friday, 14-12-2018

NEWS UPDATE

Kesadaran Berbahasa Indonesia Perlu Dikembangkan

AL | Senin,08 Okt 2018 - 11:01:00 WIB

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fathur Rokhman.foto.ist

Semarang, CityPost - Guru Besar Bidang Sosiolingustik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fathur Rokhman menilai kesadaran menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, pada setiap masyarakat, terutama kaum terdidik, termasuk insan jurnalistik perlu dikembangkan.

"Ketaatan kita dalam berbahasa Indonesia merupakan sikap menjunjung bahasa," katanya saat ditemui di Semarang, Senin (8/10/18) pagi).

Karena itulah, menurut Fathur yang juga merupakan Rektor Unnes, pembinaan kesadaran berbahasa Indonesia yang benar dan baik terus dikembangkan melalui jalur pendidikan dan media massa. Meneganai apakah bahasa Indonesia jurnalistik harus mematuhi gramatika, Fathur  menegaskan bahwa bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa di antara berbagai ragam bahasa Indonesia.

"Adapun kaidahnya, tetap tata bahasa Indonesia baku. Perbedaannya dengan ragam bahasa lainnya, pada laras dan pilihan kosakata yang digunakan," ujarnya sebagaimana dilaporkan Antara.

Fathur mencontohkan, saat ini, dalam kalimat berita masih ada insan pers memisahkan unsur predikat (P) dan objek (O) dengan tanda koma.

"Ini menyangkut kesadaran dan literasi berbahasa Indonesia para insan media," imbuhnya.

Fathur menambahkan, penggunaan istilah asing dalam berkomunikasi tidak dapat terhindarkan, miasalnya nama jabatan yang menggunakan istilah asing `Vice President Corporate Communication PT Pertamina`. Menurutnya, hal itu merupakan unsur serapan dalam bahasa Indonesia. Selain itu, Bahasa Indoensia juga memiliki keterbukaan/elastis terhadap istilah asing yang belum ada padanannya. Tentunya hal itu bergayut dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni atau globalisasi. 

"Istilah-istilah asing yang digunakan itu dari perspektif sosiolinguistik (termasuk secara politik bahasa, red.) masyarakat Indonesia juga dapat beradapsi dengan cepat dengan dinamika internasional," tuturnya.

Fathue menyebut istilah asing, seperti manager (manajer), assistant (asisten) rector (rektor), dozen (dosen), doctor (dokter), hecker (peretas), blogger (narablog), office boy (pramukantor), baby sitter (pengasuh anak), guide (pramuwisata), call center (narahubung), stand up comedy (komedi tunggal), upload (unggah), dan download (unduh). Meskipun demikian, unsur/istilah serapan dari bahasa asing itu tentu tidak serta-merta digunakan, tetapi melalui proses petunjuk istilah/kosa kata serapan yang ditetapkan oleh Badan Bahasa. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar