Jakarta, Indonesia | Saturday, 21-07-2018

NEWS UPDATE

Korea Utara Tak Terima Bayi Non Pribumi

AL | Rabu,07 Feb 2018 - 08:34:37 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Seoul, CityPost - Para wanita Korea Utara yang melahirkan bayi hasil pernikahan dari pria yang bukan ras Korea Utara dipaksa mengakhiri hudup anak mereka. Seorang wanita mantan penghuni penjara Korea Utara, sebut saja bernama Hannah meceritakan pengalamannya kepada LSM HAM Kristen, Open Doors, ketika ia harus menyaksikan kejadian yang disebutnya paling mengerikan dalam hidupnya selama terkurung di Korea Utara.

Kemurnian ras amat penting bagi Korea Utara sehingga hal itu sangat dijaga. Memiliki keturunan campuran Korea Utara dengan Cina merupakan kejahatan serius di negara yang kini dipimpin oleh Kim Jong-un itu.

Dilansir laman Express.co.id, Hannah menceritakan tentang seorang teman satu selnya kala itu sedang mengandung anak dari seorang pria asal Cina saat Hannah baru masuk ke penjara Korea Utara,  wanita itu melahirkan di dalam penjara. Namun, penjaga penjara meminta wanita itu mengakhiri hidup bayi lelaki yang baru dilahirkannya, tetapi wanita itu menolak.

Kemudian, Penjaga penjara  mengancam wanita lain dengan mendongkan senjata kepada wanita tersebut untuk mengakhiri hidup bayi myang baru dilahirkan rekannya itu.

"Karena tak punya pilihan, wanita yang diancam itu akhirnya membunuh si bayi dan kami harus menyaksikan itu semua," ungkap Hannah.

Peristiwa yang diceritakan Hannah bukanlah yang pertama kali terjadi di penjara yang berisi orang-orang yang dianggap musuh negara seperti pengkhianat partai, pemberontak, dan penganut Kristen.

Hannah meceritakan dirinya masuk ke penjara di Korea Utara bersama keluarganya karena ketahuan menganut Kristen, sebuah kejahatan berat di negara dimana hanya Dinasti Kim yang boleh 'disembah'. Hannah dan keluarganya sempat dimasukkan dalam sel terpisah tanpa makan dan minum. Selama ditahan di sana, Hannah dan keluarga merasakan derita, terutama kelaparan dan pukulan yang harus mereka hadapi.

Hannah juga menuturkan, sebelumnya ia dan keluarganya tak mengaku sebagai penganut Kristen. Namun setelah keluarga mereka diancah akam dihabisi. Barulah mereka mengatakan hal yg sebenarnya. Kemudian, Hannah dan keluarganya dimasukkan ke dalam sel isolasi yang terpisah.

"Tahanan dalam sel isolasi pasti dipukuli tanpa ampun. Tak ada yang berani melawan karena itu hanya memperburuk keadaan," katanya.

Bahkan, Hannah hampir tewas karena dehidrasi dan siksaan tiada henti. Bahkan, ia dipukuli di depan mata anak perempuannya.

Hannah dan keluarganya masih beruntung karena mendapat amnesti dari direktur penjara. Mereka kini tak lagi bertahan di Korea Utara  dan memutuskan pergi ke Cina sebelum akhirnya berhasil masuk ke Korea Selatan. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar