Jakarta, Indonesia | Sunday, 25-02-2018

NEWS UPDATE

KPAI Dalami Kasus Ibu Siksa Anak Yang Mengompol Hingga Tewas

AL | Selasa,14 Nov 2017 - 12:09:49 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) datang ke Polres Jakarta Barat, Senin (13/11/17) guna mendalami kasus kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu N kepada anaknya G (5 tahun) hingga tewas. G diduga dianiaya sang Ibu hanya karena masih mengompol.

"Kami mengimbau agar orang tua perlu memahami setiap fase tumbuh kembang anak dengan baik. Pada kasus anak G yang sebulan terakhir dianggap sering mengompol seharusnya dipahami sebagai alarm bahwa anak ini dalam masalah perkembangan atau kesehatan," kata Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati kepada awak media.

Rita menuturkan, saat ini proses penggalian informasi lebih lanjut terhadap pelaku masih terus berlangsung. Ia juga KPAI menyarankan Kanit PPA menghadirkan psikologi atau psikiater untuk mendampingi pelaku mengingat kondisinya yang masih sangat labil.

"Penggalian keterangan dari pihak-pihak terkait masih terus akan berlangsung. Saat ini keluarga besar N masih dalam situasi duka sehingga masih membutuhkan waktu untuk proses penggalian keterangan," ujar Komisioner Bidang Pengasuhan KPAI ini.

Menurut Rita, proses penanganan kasus tersebut masih sesuai dengan aturan penegakan hukum yang berlaku. 

"KPAI ingin memastikan proses hukum terhadap pelaku berjalan sesuai aturan yang berlaku. Selain itu, KPAI ingin mengambil pelajaran agar kasus sejenis tidak terjadi lagi," tuturnya.

Rita menjelaskan fase latihan toilet (toilet training) normalnya akan selesai pada anak usia tiga tahunan. Dalam kasus anak G, anak diduga sudah merasakan tekanan psikologis yang luar biasa dan kehilangan kepercayaan kepada orang terdekat, yaitu ibunya.

"Kecemasan pada anak G ini keluar dalam bentuk mengompol. Jika orang tua menyadari anak dalam masalah, seharusnya orang tua mengevaluasi pola asuhnya," imbuhnya.

Agar kasus serupa tak terulang lagi, Rita mengimbau kepada semua pihak yang melihat adanya dugaan kasus kekerasan terhadap anak segera melaporkan kepada pihak kepolisian melalui Babin Kamtibmas yaitu perwakilan polisi di masing-masing kelurahan dan atau kepolisian terdekat dengan memberi tahu RT setempat. Meskipun kekerasan di dalam rumah terlihat seperti urusan pribadi seseorang, masyarakat dapat memberikan laporan kepolisian yang saat ini memiliki Unit Perempuan dan Anak.

"Pihak sekolah ananda G sebenarnya sudah menanyakan luka-luka yang ada di tubuh ananda G tapi ibu lebih banyak menghindar. KPAI berharap sekolah sebagai rumah kedua anak dan masyarakat sebagai fungsi kontrol perlindungan anak dapat melaporkan kepada pihak berwajib jika ada dugaan tindak kekerasan," ujarnya.

Dengan kondisi psikologis pelaku yang merupakan orang tua tunggal, Rita memastikan KPAI akan terus mendorong pemerintah untuk terus mensosialisasikan lembaga-lembaga yang dapat membantu mencari jalan keluar dari persoalan anggota masyarakat khususnya persoalan anak, perempuan dan keluarga misalnya P2TP2A, di RPTRA, LK3 dan lainnya. Ia menambahkan, masyarakat juga perlu mengetahui kemana mereka harus berkonsultasi atau meminta bantuan terkait persoalan pribadinya. Selain itu, masyarakat juga dapat mengajak orang yang dianggap rentan ke tempat-tempat yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.

"Pada kasus ini, ibu N adalah single parent (mengasuh sendiri) ia sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk terus bertahan tetapi tidak tahu harus ke mana. Pelaku menyatakan sangat menyesal dengan perbuatannya. Dia menyampaikan pesan kepada semua orang tua untuk tidak melakukan kekerasan terhadap anak dan melampiaskan kekesalan kepada anak. Penyesalan hanya hadir di belakang," katanya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar