Jakarta, Indonesia | Monday, 20-08-2018

NEWS UPDATE

KPK Dalami Prosedur Izin Berobat Keluar di Lapas Sukamiskin

AL | Jumat,10 Agus 2018 - 19:48:18 WIB

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah.foto.ist

Jakarta, CityPost - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang mendalami prosedur izin berobat ke luar Lembaga Permasyarakatan (Lapas) dalam penyidikan kasus suap kepada penyelenggara negara terkait pemberian fasilitas, pemberian perizinan ataupun pemberian lainnya di Lapas Klas 1 Sukamiskin, Bandung., Jawa Barat dengan memeriksa empat saksi untuk tersangka Fahmi Darmawansyah dalam kasus suap tersebut.

"KPK mengkonfirmasi pengetahuan para saksi terkait dengan prosedur izin berobat ke luar Lapas," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Kamis (10/8/18).

Febri menyebutkan, empat saksi yang diperiksa itu adalah Plt Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Lapas Sukamiskin Slamet Widodo, Kasi Kesehatan Lapas Sukamiskin Yogi Suhara, staf perawatan Lapas Sukamiskin Ficky Fickry F, dan Radian Azhar dari pihak swasta.

KPK total telah menetapkan empat tersangka terkait kasus ini, antara lain mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husein (WH), Hendry Saputra (HND) yang merupakan staf Wahid Husein, narapidana kasus korupsi Fahmi Darmawansyah (FD), dan Andri Rahmat (AR) yang merupakan narapidana kasus pidana umum/tahanan pendamping (tamping) dari Fahmi Darmawansyah.

Sebagaimana diketahui, KPK sempat menyegel dua kamar hunian atau sel dari narapidana korupsi masing-masing Fuad Amin dan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan di Lapas Sukamiskin karena dua narapidana tersebut tidak berada di dalam sel saat KPK melakukan penggeledahan. Ternyata, keduanya mendapat izin berobat ke luar Lapas atas izin Kalapas Sukamiskin Wahid Husein saat itu.

Dalam kasus itu, yakni Wahid Husein dan Hendry Saputra diduga sebagai penerima suap, sedangkan Fahmi Darmawansyah dan Andri Rahmat diduga sebagai pemeberi suap.

KPK menduga Wahid Husein telaj menerima pemberian berupa uang dan dua mobil dalam jabatannya sebagai Kalapas Sukamiskin sejak Maret 2018 terkait pemberian fasilitas, izin, luar biasa, dan lainnya yang tidak seharusnya kepada narapidana tertentu. Pemberian suap dari Fahmi tersebut terkait penyediaan fasilitas sel atau kamar yang dinikmati oleh Fahmi dan kemudahan baginya untuk dapat keluar masuk tahanan. Berbagai penerimaan tersebut diduga dibantu dan diperantarai oleh orang dekat keduanya, yakni Hendry Saputra dan Andri Rahmat.

Dalam kegiatan OTT, KPK juga mengamankan uang total Rp 279.920.000 dan 1.410 dolar AS, catatan penerimaan uang, dan dokumen terkait pembelian dan pengiriman mobil. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar