Jakarta, Indonesia | Thursday, 21-06-2018

NEWS UPDATE

Misteri Kematian Pendiri Grup Matahari Terkuak

RWS | Senin,12 Mar 2018 - 13:45:59 WIB

Momen Alm. Hari Darmawan saat disemayamkan dan didampingi keluarga/ foto ist

Jakarta, CityPost – Pendiri Grup Matahari Departemen Store Hari Darmawan yang meninggal dunia setelah terjatuh ke sungai Ciliwung dan jasadnya diketemukan tidak jauh dari vila tempatnya menginap cukup mengejutkan, pasalnya sebelumnya dikabarkan Hari sempat melakukan makan bersama stafnya.

Diketahui, sebelum kejadian almarhum sedang makan-makan bersama dengan stafnya di daerah TWM. Saat itu beberapa kali Hari meminta diambilkan sesuatu kepada supirnya, awalnya meminta diambilkan koran, lalu yang terakhir minta diambilkan air minum.

“Menurut keterangan supirnya, setelah beliau kembali mengambil air minum dimobil, beliau sudah tidak ada lagi,” tukasnya.

Darisanalah pencarian dilakukan pada malam harinya oleh supir dan staf Hari Darmawan, karena kondisi air sungai sangat deras dan terdapat pertemuan arus dua sungai kecil dilokasi, maka mereka memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok harinya.

Pada pagi harinya sekitar pukul 06.30 WIB jasad korban ditemukan pertama kali oleh Dani Sudiana dalam kondisi sudah meninggal dunia dengan posisi tengkurap.

Sementara itu, pihak keluarga korban mengaku tidak menginginkan jenazah Hari Darmawan untuk di autopsi. Hal itu disebutkan sebagai keputusan pihak keluarga agar proses kremasi bisa berjalan dengan cepat.

“Kami melihat, tidak perlu melakukan autopsi, karena ini adalah keputusan keluarga. Itu hal yang pertama, kemudian yang kedua kalau didalam keterangan keluarga menginginkan supaya cepat dikremasi, supaya proses perkabungan tidak berlangsung lama dan dapat dikremasi. Tentunya ini menjadi sesuatu yang diharapkan agar segera seluruh keluarga kembali kepada kehidupan dan aktivitas biasanya,” tukas salah seorang juru bicara anggota keluarga bernama Roy Nicholas Mandey.

Dikabarkan sebelum meninggal Hari sendiri sedang tidak enak badan saat berada di villanya yang tidak jauh dari objek wisata Taman Wisata Matahari (TWM) Puncak di kawasan Megamendung Bogor, Jawa Barat.

“Waktu itu, beliau ada divilanya Megamendung dan memang dalam beberapa hari terakhir beliau sedang tidak enak badan. Dari pihak keluarga memperkirakan terjadi suatu serangan jantung. Kemudian pada saat itu beliau sedang sendiri hanya ada pendampingnya yakni supirnya. Waktu kejadian sudah larut malam dan tidak terlihat oleh pendampingnya dan baru diketemukan esok harinya,” terang Roy.

Roy menjelaskan almarhum yang sudah memasuki usia senja tentunya mempunyai penyakit yang sudah dialaminya. Namun pengobatan terus berjalan.

“Sebagai orangtua, tentu ada penyakit yang sudah dialami dan pengobatan terus berjalan. Tetapi yang namanya penyakit bisa tiba-tiba muncul dan tidak ada seorangpun yang bisa mengetahuinya,” tukas Roy.

Roy menegaskan yang namanya serangan, dominan adalah serangan jantung. Karena serangan jantung itu tidak hanya pada orang sakit saja atau memang yang divonis sakit jantung. Tapi orang normal pun bisa tiba-tiba terkena serangan dan serangan itu tidak ada yang tahu.

Sementara itu, pihak keluarga sendiri menurut Roy sudah mengikhlaskan kepergian Hari Darmawan dan meyakini kepergian sosok almarhum yang sangat dicintai keluarganya merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

“untuk penyelidikan kami serahkan kepada pihak yang berwajib. Karena mereka yang berwenang. Namun, bagi kami berpulangnya beliau karena ada satu serangan (jantung) dan ini adalah kehendak Illahi dan pada waktunya beliau harus berpulang,” tegasnya. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar