Jakarta, Indonesia | Wednesday, 23-01-2019

NEWS UPDATE

Muslim Uighur China Bantu Korban Tsunami Selat Sunda

RWS | Sabtu,12 Jan 2019 - 17:34:04 WIB

Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur Seyit Tumturk menyerahkan bantuan warga muslim Uighur untuk korban tsunami Selat Sunda kepada Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Syuhelmaidi Syukur di Jakarta, Sabtu (12/1).foto.ist

Jakarta, CityPost - Warga muslim Uighur di China menyalurkan bantuan senilai USD 20.000 untuk korban tsunami Selat Sunda di Banten dan Lampung lewat lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Penyaluran bantuan itu disampaikan  Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur Seyit Tumturk kepada Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Syuhelmaidi Syukur di Jakarta, Sabtu (12/1).

"Hanya ini yang bisa kami berikan ke masyarakat Indonesia yang tertimpa bencana,. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bangsa Indonesia atas dukungannya kepada Muslim Uighur yang saat ini ditindas pemerintah China," kata Tumturk dalam konferensi pers.

Tumturk menambahkan bahwa warga Uighur sangat terharu melihat dukungan dari masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan, warga muslim Uighur total menyalurkan bantuan senilai USD 60.000 bagi korban tsunami Selat Sunda, USD 20.000 di antaranya disalurkan melalui ACT.

Syuhelmaidi mengaku terharu karena warga Uighur masih memikirkan untuk membantu korban bencana meski sedang menghadapi penindasan.

"Apa yang menimpa saudara kita Uighur di Xinjiang, China, sangat memperihatinkan. Ini merupakan krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini," ujarnya sebagaimana dilapiorkan Antara.

Tumturk juga menceitakan kondisi warga Uighur yang kini kesulitan menjalankan ibadah salat dan berpuasa di negeri tempat mereka tinggal.

"Sekarang hanya ada sedikit masjid, banyak sudah dihancurkan. Parahnya lagi, pemerintah memasukkan orang asli China ke keluarga Uighur, dan anggota keluarga harus melayani semua permintaannya," ungkapnya.

Syuhelmaidi mengatakan, ACT sudah berusaha masuk ke wilayah Xinjiang, tempat sekitar 35 juta muslim Uighur tinggal, melalui negara-negara yang berbatasan dengan Xinjiang namun kesulitan mencapai wilayah itu. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar