Jakarta, Indonesia | Wednesday, 23-01-2019

NEWS UPDATE

ODHA Terancam Tak bisa Dapatkan Obat Antiretroviral

RWS | Jumat,11 Jan 2019 - 12:00:21 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengatakan para penderita HIV AIDS atau Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia terancam tidak bisa mendapatkan obat Antiretroviral Fixed Dose Combination jenis Tenofovir, Lamivudin, Efavirens (ARV FDC TLE) untuk terapi pengobatan mereka, karena program pengadaan obat tersebut gagal terlaksana pada tahun 2018.

"Proses pengadaan obat ARV Fixed Dose Combination jenis TLE ini di tahun 2018 dinyatakan gagal. Alokasi dana APBN tidak bisa tersalurkan untuk membeli obat tersebut," ujar Aditya dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (10/1).

Aditnya menjelaskan, penyebab gagalnya proses penunjukkan langsung dengan dua kali negosiasi harga adalah karena PT Kimia Farma tidak setuju dengan harga yang ditawarkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Kemudian dilakukan proses lelang terbatas dengan peserta lelang PT Kimia Farma dan PT Indofarma Global Medika, namun, proses ini juga tidak menghasilkan pemenang sehingga menyebabkan terjadinya kekosongan persediaan obat ARV TLE di berbagai tempat. Selanjutnya, Kemenkes melakukan pengadaan darurat dengan menggunakan dana bantuan donor Global Fund dan membeli obat ARV TLE langsung di India.

"Obat sudah sampai di Jakarta awal Desember 2018 sejumlah 220 ribu botol dan hanya cukup sampai bulan Maret 2019," kata Aditya.

Setelah stok obat ARV TLE diperkirakan habis pada Maret 2019, proses pengadaan selanjutnya masih belum dapat dipastikan. Aditya menuturkan, saat ini mayoritas ODHA di Indonesia menggunakan obat ARV TLE sebagai terapi pengobatan, diperkirakan ada sekitar 631.635 orang HIV dan AIDS pada tahun 2018.
 
Meski tidak menyembuhkan, obat ARV TLE ini mampu menekan jumlah virus HIV di dalam tubuh pengidapnya, sehingga ODHA bisa tetap sehat dan berpeluang hidup lebih lama. Namun, bila ODHA tidak mengkonsumsi obat ini setiap hari secara rutin, maka akan menimbulkan resistensi virus terhadap obat tersebut.

"Kalau tidak diminum setiap hari, risikonya terjadi resistensi terhadap obat," tutup Aditya. (RWS/ist)



Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar