Jakarta, Indonesia | Monday, 24-09-2018

NEWS UPDATE

Para Pejabat Hadiri Upacara Jemenengan Pakoe Boewono XIII

AL | Kamis,12 Apr 2018 - 19:47:52 WIB

Pertujukan Tari Bedhaya Ketawang saat acara Tingalan Dalem Jumenengan SISKS Pakoe Boewono XIII di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/4/18).foto.ist

Solo, CityPost - Prosesi upacara adat budaya keraton Tingalan Dalem Jumenengan Ke-14 Sampeyan Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Boewono XIII yang berlangsung Kamis (12/4/18)
di Sasono Sewaka, Keraton Kasunanan Surakarta, Jateng.

Acara yang berlangsung dengan pengawalan ketat ini dihadiri sejumlah pejabat, seperti menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Danrem 074/Warastratama Kolonel Inf Widi Prasetijono, sedangkan tokoh masyarakat yang hadir antara lain Sutjiyatmi Notomihardjo atau ibu kandung Presiden Joko Widodo, Mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Subagyo HS.

Ketua I Bidang Tata Cara Upacara Keraton Surakarta, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Dipo Kusumo mengatakan, proses jumenengan tersebut ada kaitannya dengan tarian sakral bedaya ketawang yang dilakukan oleh sembilan gadis, dan mios Dalem Ingkang Sinuwun satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan, berjalan lancar hingga selesai tidak ada masalah.

Menurut Dipo Kusumo, para tokoh yang mendapat gelar antara lain Gubernur Kalimantan Barat, Bupati Kutai Barat, Kepala Polda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. Sedangkan, yang mendapat gelar dari keluarga keraton antara lain Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puspo Hadikusumo, KGPH Dipo Kusumo, KGPH Mangkubumi, KGPH Purboyo, sedangkan gelar untuk Gubernur Kalbar, Bupati Kutai Barat, Kapolda Jateng, dan Pangdam IV Diponegoro, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH). Ia menjelaskan, pemberian gelar tersebut secara struktur, lembaga dan pribadi sangat konsen terhadap pelestarian budaya seperti tinggalan dalem, jumenengan terkait di dalamnya kawasan budaya nasional. Hal ini merupakan serangkaian histori sejarah meski non fisik atau non benda tetapi bagian penting dari adi luhung budaya Jawa yang bersumber dari Keraton Surakarta.

GKH Dipo Kusumo juga mejelaskan soal tarian sakral bedoyo ketawang yang biasanya ditarikan selama dua jam, namun pada tahun ini dipersingkat waktunya karena melihat kondisi kesehatan SISKS Pakoe Boewono XIII, sehingga hanya berlangsung hanya sekitar 30 menit saja. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah dan bisa berjalan lancar, aman dan hikmat.

Usai prosesi upacara ini, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mengatakan kegiatan upacara tradisi tersebut adalah salah satu untuk merekatkan silatuhrahmi kerabat keraton. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar