Jakarta, Indonesia | Thursday, 19-07-2018

NEWS UPDATE

Pembinaan Anak Teroris Jadi Tanggung Jawab Negara

AL | Kamis,12 Jul 2018 - 13:42:45 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) negara memiliki menyatakan bahwa negara yang tanggung jawab dalam melakukan pembinaan bagi anak-anak keluarga teroris sebagai bagian dalam upaya melawan radikalisasi.

Menurut Deputi Kerja sama Internasional BNPT Irjen Pol Hamidin, anak-anak yang orangtuanya terlibat terorisme harus diambil alih dan dibina secara khusus.

"Mereka yang di bawah umur itu umumnya belum bisa berdiri sendiri. Jadi anak-anak yang terlibat di terorisme itu anak-anak yang bermasalah hukum. Mereka orang-orang yang harus kita ambil alih, harus kita bina secara khusus," katanya di sela seminar Indonesia International Defense Science (IIDS) 2018, di Jakarta, Kamis (12/7/18).

Hamidin mengingatkan, untuk merekrut teroris itu yang paling mudah mengajak dari lingkungan keluarga. menurut dia, merekrut teroris itu yang paling mudah mengajak dari lingkungan keluarga.

"Ini yang selama ini kita lupakan. Kita lupa bahwa lingkungan keluarga paling efektif untuk diajak, seperti kasus Surabaya. Jadi BNPT terlibat untuk pencegahan berikutnya. Jadi begitu dia masuk ke sana, maka program counter radikalisasi untuk anak-anak itu dilakukan," tuturnya.

Hamidin mencontohkan, ada kasus anak yang orangtuanya menjadi pelaku aksi teror di Irak. Ketika diinvestigasi, sang anak tidak pernah berkeinginan menjadi mujahidin seperti yang dilakukan orangtuanya yang sudah tewas. Namun, anak di bawah umur tersebut gemar bermain senjata karena faktor lingkungan yang membentuknya. Jika tidak dibina, mingkin saja suatu waktu malah akan mengikuti jejak orangtuanya.

"Jadi anak seperti itu sudah bermain senjata. Mereka mengatakan dia teroris radikal dan akan menjadikannya teroris. Nah itu negara harus mengambil alih. Dia itu contoh dan kami ambil alih. Kita masukan dia ke pesantren, belajar normal, kita jadikan anak normal," ujarnya.

Oleh karena itu, Hamidim meminta keterlibatan negara utuk membina anak-anak terduga teroris, tetapi komponen utamanya keluarganya. Kalau kita ambil alih serta merta, kita akan mendapat penolakan. Dan di situ sang anak butuh komunitasnya," kata Hamidin. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar