Jakarta, Indonesia | Wednesday, 23-01-2019

NEWS UPDATE

Pengidap Kanker Tidak Bisa Dikatakan Sembuh Total

RWS | Jumat,11 Jan 2019 - 12:24:08 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr Ari Fahrial Syam mengungkapkan, dalam dunia medis penderita kanker yang sudah menjalani terapi dan menurut hasil evaluasi tubuhnya sudah tidak lagi mengandung sel kanker disebut berada dalam masa remisi, yang maknanya berbeda dengan sembuh total.

"Apa yang dimaksud dengan remisi yakni pasien kanker tersebut sudah diterapi dan sudah dievaluasi bahwa pasien tersebut tidak mengandung sel kanker lagi di dalam tubuhnya atau kita sebut remisi. Pada masa remisi tersebut si pasien harus tetap kontrol secara teratur dan tetap menjaga tubuhnya agar selalu sehat. Istilah remisi berbeda dengan sembuh total," kata Ari yang ditemui di Jakarta, Jum`at (11/1)

Secera psikologis, istilah remisi menjadi pengingat bagi pasien untuk memeriksakan kondisi mereka secara teratur dan menerapkan gaya hidup sehat, seperti dengan istirahat cukup, menghindari stres, menjaga makan, dan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, yang mengandung anti-oksidan untuk menetralkan racun di dalam tubuh. Pengidap kanker nasofaring misalnya, sebaiknya menghindari makanan yang asin serta rokok dan alkohol.<

"Kontrol teratur juga tetap dilakukan karena pasien yang remisi dari suatu kanker berisiko untuk menderita kanker kembali," ujar Ari.

Saat kanker sudah mencapai Stadium Empat, perjalanan kanker sudah lanjut dan menyebar ke organ lain seperti paru, liver atau otak.

Kanker Stadium Empat juga berhubungan dengan tingkat ketahanan yang rendah. Hitungan tingkat ketahanan berhubungan dengan bertahan hidupnya seseorang dengan penyakit kankernya," tuturnya.

Biasanya, pasien yang kankernya sudah mencapai stadium empat menjalani terapi yang bersifat paliatif supportif, antara lain untuk mengurangi nyeri akibat kanker, memperbaiki nafsu makan, mengurangi mual dan muntah. Terapi paliatif para prinsipnya ditujukan untuk mengurangi dampak kanker. Ari mengakui, 
pada praktiknya dokter tidak bisa menyebut berapa lama seorang bisa bertahan hidup dengan kanker yang dia derita, hanya bisa memperkirakan tingkat ketahanannya.

"Tetapi mengetahui angka survival rate< juga bisa membuat pasien kanker lengah. Misalnya, seseorang yang diketahui hanya menderita kanker stadium satu yang sudah diobati menjadi lengah karena merasa harapan hidupnya lebih baik dan meninggalkan gaya hidup sehat dan tidak kontrol," tutupnya. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar