Jakarta, Indonesia | Wednesday, 14-11-2018

NEWS UPDATE

Penumpang Gugat Garuda Indobesia dan CIMB Niaga

AL | Jumat,09 Nov 2018 - 15:50:02 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost- Seorang penumpang maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang juga nasabah PT CIMB Niaga, Tony Mampuk, mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap kedua perusahaan tersebut ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui kuasa hukumnya, David Tobing,

Gugatan ini terdaftar pada Kamis (8/11) dengan nomor register 624/PDT.G/2018/PN.JKT.PST  David menjelaskan, gugatan bermula ketika penggugat melakukan pembatalan penerbangan dan meminta kepada Garuda Indonesia untuk melakukan pengembalian uang tiket (refund).

"Tony Mampuk mengguat PT Garuda Indonesia dan CIMB Niaga senilai Rp 5,3 miliar," kata David di Jakarta, Jum`at (9/11/18).

David menjelaskan, permintaan penggugat untuk melakukan refund telah disetujui pihak Garuda Indonesia dan telah dilakukan pengembalian uang kepada penggugat pada 12 Juli 2018 senilai Rp 52.791.900 yang dibayarkan melalui kartu kredit CIMB Niaga atas nama penggugat. Kemudian, pada 23 Juli 2018, Penggugat telah menggunakan dana `refund` tersebut untuk keperluan membayar tagihan-tagihan kartu kredit dan sebagian telah Penggugat pindahkan ke rekening Penggugat di Bank BCA.

Namun, saat menerima lembar tagihan Kartu Kredit CIMB Niaga bulan Agustus 2018, penggugat dikagetkan dengan adanya transaksi senilai Rp 52.791.900 yang tidak pernah dia lakukan ataupun diketahui sebelumnya.

"Setelah meminta konfirmasi kepada pihak CIMB Niaga, diketahui bahwa transaksi tersebut dilakukan karena adanya permintaan dari pihak Garuda Indonesia," ungkap David.

Karena merasa keberatan terhadap transaksi tersebut, Penggugat meminta kepada pihak Garuda Indonesia dan CIMB Niaga untuk memberikan penjelasan terkait adanya transaksi tersebut yang dilakukan tanpa adanya permintaan maupun persetujuan dari Penggugat serta tidak adanya pemberitahuan kepada Penggugat.

"Bukannya membatalkan transaksi tersebut, para tergugat justru memberikan pernyataan yang saling kontradiktif, yaitu pihak Garuda Indonesia mengatakan tidak pernah melakukan penagihan atas transaksi tersebut sedangkan pihak CIMB Niaga menyatakan transaksi tersebut dilakukan atas permintaan dari pihak Garuda Indonesia," jelas David.

Akhirnya, Tony mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Garuda Indonesia dan CIMB Niaga karena ia merasa kecewa dengan jawaban tersebut serta dirugikan karena terpaksa harus membayar tagihan tersebut agar tidak terkena bunga yang cukup memberatkan.

David menilai, tindakan yang dilakukan oleh para tergugat dapat dikatakan sebagai transaksi fiktif, karena dilakukan tanpa permintaan dan persetujuan penggugat serta pemberitahuan kepada penggugat mengingat nilai transaksi tersebut cukup besar.

"Tindakan tersebut telah melanggar ketentuan Surat Edaran BI No. 14/17/DASP yang mewajibkan adanya pemberitahuan transaksi (transaction alert) kepada pemegang kartu kredit baik itu melalui email, telepon atau sarana elektronik lainnya," ujarnya.

David menambahkan, perbuatan para tergugat tersebut juga dapat dikategorikan sebagai bentuk membuat catatan palsu (fiktif) ataupun mengaburkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan/laporan transaksi yang merupakan bentuk pelanggaran bahkan masuk kategori tindak pidana dalam UU No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan.

"CIMB Niaga dalam hal ini juga telah melanggar kewajiban hukumnya untuk menjalankan Perbankan dengan menggunakan prinsip kehati-hatian sebagaimana diatur dalam UU Perbankan," katanya.

Atas kejadian tersebut, David menilai bahwa Penggugat sebagai konsumen Garuda Indonesia dan atau nasabah CIMB Niaga telah dilanggar hak subyektifnya atas rasa aman dan nyaman dalam menggunakan jasa para tergugat, hal ini sebagimana telah dijamin dalam UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

"Dalam gugatannya, penggugat menuntut ganti rugi materiil sebesar Rp 52.791.900 dan ganti rugi immateriil sebesar Rp 5.279.190.000," tutup David. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar