Jakarta, Indonesia | Friday, 14-12-2018

NEWS UPDATE

Permintaan Ekspor Bambu Suji dan Lidah Mertua Sangat Tinggi

AL | Jumat,12 Okt 2018 - 18:00:30 WIB

Direktur Jenderal Hortikuktura Kementan, Suwandi, saat mengunjungi budidaya dan industri tanaman hias CV Asia Prima di Sukabumi, Jawa Barat.foto.ist

Jakarta, CityPost - Kementerian Pertanian (Kementan) memacu peningkatan ekspor tanaman hias bambu suji (Dracina Sanderian) dan lidah mertua (Sansevieria Trifascia) tabernilai ekonomi tinggi hal itu terlihat dari permintaan ekspor yang sangat tinggi.

"Sesuai arahan Menteri Pertanian untuk meraup dollar dari sektor pertanian, kami lirik pengembangan budi daya tanaman hias, bunga Bambu Suji dan Lidah Mertua yang permintaan ekspornya sangat tinggi," kata Dirjen Hortikuktura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, saat mengunjungi budidaya dan industri tanaman hias di Sukabumi, Jawa Barat, Jum`at (12/10/18).

Karena itulah, Kementan akan mendorong pengembangan budidaya melalui pola kemitraan untuk meningkatkan volume ekspor tanaman hias Bambu Suji dan Lidah Mertua, petani binaan akan diperluas dan kelembagaan petani pun diperkuat, sehingga budi dayanya berskala korporasi. Menurut Suwandi, kemitraan ini dapat menjadi pendapatan sampingan bagi petani yang mata pencaharian utamanya menanam padi atau sayuran. Peluangnya usahanya pun sangat besar dengan budi daya yang bisa dilakukan di pekarangan rumah.

Eksportir tanaman hias sekaligus pemilik CV Asia Prima, Tarempa Patuo menuturkan, pihaknya mulai mengekspor Bambu Suji  sejak 1997. Selain Bambu Suji, perusahaan juga mengekspor tanaman hias lainya berupa Lidah Mertua. Budi daya kedua jenis tanaman hias ini,   dilakukan oleh petani, sehingga membangun pola kemitraan dengan ratusan petani. Bambu Suji dirangkai dalam berbagai bentuk, seperti Pagoda, Guci dan Nanas. Harga per rangkai bervariasi mulai Rp 15.000 sampai Rp150.000.

"Bambu Suji kami ekspor ke Korea, Singapura, Malaysia, dan Australia, bahkan Amerika. Dari tahun ke tahun trennya terus meningkat. Kalau Lidah Mertua diekspor ke Korea dan Singapura," ujarnya.

Menurut Tarempa, tingginya permintaan ekspor Bambu Suji disebabkan karena telah bergesernya pemanfaatan. Dulu, kebutuhannya musiman yaitu untuk tahun baru Korea, namun sekarang sudah bergeser sebagai tanaman hias untuk dekorasi di dalam rumah, sehingga permintaanya sangat tinggi.

"Permintaan dari Belanda pun belum bisa dipenuhi. Ini bisnis di sektor pertanian yang sangat menguntungkan dan nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
Ia menambahkan ekspor Bambu Suji rata-rata dua kontainer per minggu dengan nilai Rp600 juta, atau per tahunnya mencapai Rp32 miliar. Sementara Lidah Mertua diekspor dua kali per bulan dengan nilai ekspor Rp 3 miliar per tahun," tuturnya.

Tarempa juga mengapresiasi pelayanan Kementan yang mempermudah izin ekspor, karena sebelumnya perizinan memakan waktu lama, sekarang menjadi cepat dan gratis dengan sistem daring. (red/ist) 


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar