Jakarta, Indonesia | Wednesday, 23-01-2019

NEWS UPDATE

PPI Pastikan Mahasiswa RI di Taiwan Bukan Kerja Paksa

RWS | Jumat,04 Jan 2019 - 12:12:36 WIB

Pengurus PPI Taiwan.foto.ist

Jakarta, CityPost - Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan menanggapi kabar tentang mahasiswa Indonesia yang diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan. PPI memastikan yang dialami para mahasiswa tersebut bukanlah kerja paksa.

"Setelah kami mengonfirmasi ke beberapa mahasiswa di universitas yang disebut dalam pemberitaan, memang ada kelebihan jam kerja dari yang telah ditentukan. Seluruh jam kerja yang dilakukan tetap diberikan gaji dan kata `kerja paksa`sebenarnya kurang tepat untuk hal ini," kata pernyataan dari PPI di Taiwan yang diterima di Jakarta, Jum`at (4/1).

Menurut pihak PPI di Taiwan, sejauh ini memang ada beberapa mahasiswa yang mengeluh lelah karena jam kerja yang lebih panjang dari waktu kerja yang telah ditentukan, yaitu 20 jam per minggu untuk pelajar. Namun, beberapa mahasiswa yang tetap menikmatinya. Permasalahan mahasiswa Indonesia yang diduga mengalami kerja paksa di Taiwan muncul karena sejumlah pihak melakukan perekrutan dan pengiriman mahasiswa magang secara masif, sementara kedua belah pihak belum menyepakati detail pengelolaannya melalui suatu pengaturan teknis (technical arrangement).

PPI di Taiwan menjelaskan lebih lanjut bahwa program kuliah sambil kerja (magang) adalah salah satu program legal dibawah kebijakan New Southbound Policy (NSP) dengan nama Industrial Academia Collaboration. Ada 69 universitas dan sekitar enam sampai 10 universitas yang fokus dengan pelajar dari Indonesia.
Selain itu, kegiatan pelajar yang mengikuti program kuliah sambil harus bekerja adalah suatu hal yang legal di Taiwan. 

"Teman-teman mahasiswa memang harus bekerja (magang) untuk memenuhi biaya sekolah dan hidupnya karena tidak ada beasiswa. Ada beberapa universitas hanya memberikan beasiswa enam bulan sampa satu tahun saja," demikian yang tertulos dalam pernyataan PPI di Taiwan.

Kasus `double track` atau kuliah sambil magang memang sudah lama menjadi perhatian PPI. Terkait hal tersebut, organisasi PPI bersama dengan rekan-rekan PPI di kampus telah mengidentifikasi berbagai masalah dalam program `double track` tersebut dan telah melaporkan kepada perwakilan Indonesia di Taiwan, yaitu Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI Taipei) untuk mencari penyelesaian masalah.

PPI menilai bahwa kasus `double track` memang memerlukan perhatian segera pemerintah Indonesia untuk turut menangani dan mengawasi langsung implementasi program kuliah magang tersebut, termasuk didalamnya sejauh mana peran dan juga keterlibatan agen dengan permasalahannya.

"Dengan jumlah mahasiswa yang semakin bertambah, saat ini ada lebih dari 6.000 pelajar di Taiwan, dengan berbagai dinamika permasalahan yang dihadapi, sudah selayaknya dipertimbangkan untuk adanya staff pendidikan yang setara dengan Atase untuk membantu pemerintah mengelola, mengawasi, dan mengevaluasi program-program kerjasama yang ditawarkan antara Indonesia dan Taiwan," lanjut pernyataan PPI.

Hingga saat ini, PPI Taiwan dan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei sedang melakukan pendalaman terhadap informasi yang berkembang mengenai program kuliah magang itu. Selanjutnya, untuk mencegah dampak negatif lebih jauh, Pemerintah Indonesia melalui KDEI Taipei sedang berkoordinasi dengan otoritas terkait di Taiwan untuk menyepakati solusi bersama. (RWS/ist)



Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar