Jakarta, Indonesia | Wednesday, 14-11-2018

NEWS UPDATE

Prasangka Buruk Terhadap Muslim Meningkat Tajam di Jerman

RWS | Jumat,09 Nov 2018 - 18:39:41 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Berlin, CityPost -  Hasil studi yang dilakukan Leipzig University menunjukkan bahwa prasangka terhadap orang Muslim, migran dan pencari suaka telah meningkat tajam di Jerman. Penelitin tersebut mengungkapkan,  hampir 55 persen orang Jerman mengaku mereka merasa seperti orang asing di negeri mereka sendiri sebab begitu banyak orang Muslim. Sebelum krisis pengungsi muncul pada 2010, 33 persen responden memiliki pandangan seperti itu.<

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Elmar Braehler bersama dengan Dr. Oliver Deckeritu juga mengungkapkan bahwa kebencian terhadap orang asing kian tersebar luas di seluruh Jerman. Bahkan, 36 persen orang yang dimintai tanggapan mengatakan mereka menganggap Jerman dalam keadaan bahaya karena dipenuhi orang asing. Lebih seperempat dari mereka mengatakan percaya orang asing mesti dikirim kembali ke negara asal mereka kalau terjadai kekurangan lapangan kerja di Jerman.

Braehler mengatakan, xenofobia dan praduga buruk terhadap orang Muslim menyulut lonjakan partai sayap kanan-jauh Alternative for Germany (AfD)

"Rakyat yang memiliki pandangan kanan-jauh sekarang berpaling dari Uni Kristen Demokrat dan Partai Sosial Demokrat dan menemukan rumah baru di AfD," ujarnya sebagimana dilaporkan kantor berita Anadolu, Kamis (8/11/18).

Namun, AfD yang mengesahkan retorika terbuka anti-Islam menyangkal bahwa negeri itu `berada di bawah ancaman Islamisasi` terutama setelah hampir satu juta pengungsi kebanyakan dari Suriah dan Irak tiba di Jerman sejak 2015.

Jerman yang tercatat dihuni 81 juta warga, memiliki warga Muslim paling banyak kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Di antara hampir 4,7 juta orang Muslim di negara itu, tiga juta diantaranya berasal dari Turki.

Selama beberapa tahun belakangan ini, Jerman telah menyaksikan peningkatan Islamofobia dan kebencian terhadap migran akibat propaganda dari partai sayap kanan-jauh dan populis, yang telah memanfaatkan ketakutan akibat terorisme dan krisis pengungsi. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar