Jakarta, Indonesia | Wednesday, 14-11-2018

NEWS UPDATE

Pria Bangladesh Dinyatakan Bersalah Terkait Bom New York

RWS | Kamis,08 Nov 2018 - 13:48:33 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

New York, CityPost - Seorang pria Bangladesh, Akayed Ullah (28) yang dituduh meledakkan bom pada Desember 2017 di stasiun kereta bawah tanah kota New York atas nama IS  dinyatakan bersalah dalam enam dakwaan pada Selasa (6/11/18) lalu.

Jaksa federal mengatakan, dakwaan terhadap Ullah termasuk penggunaan senjata pemusnah massal dan dukungan kepada organisasi teroris. Putusan tersebut dikeluarkan setelah juri bersidang satu pekan di pengadilan federal Manhattan. Ullah juga terancam mendapat hukuman penjara seumur hidup.

Pengacara Ullah menolak menanggapi putusan tersebut. Tim pengacara juga menegaskan bahwa tidak mempertentangkan dakwaan pengeboman, tapi mengatakan motif Ullah adalah mengakhiri hidupnya. Menurut mereka, Ullah tidak berniat mendukung IS meski ia pernah menyerap propaganda kelompok militan itu melalui Internet.

Ullah ditahan pada Desember 2017 setelah meledakkan bom rakitan di sebuah lorong pejalan kaki yang menghubungkan beberapa jalur kereta bawah tanah dengan terminal bus di Manhattan tengah. Meski ledakan tidak menimbulkan korban jiwa, namun pihak berwenang mengatakan ada tiga orang yang mengalami luka ringan. Stasiun kereta bawah tanah tersebut serta Terminal Bus Port Authority ditutup sementara setelah kejadian itu.

Menurut jaksa federal, Ullah membuat bom dari sebuah pipa yang diambil dari lokasi pembangunan, tempat ia pernah bekerja sebagai tukang listrik, dengan menggunakan pentol korek dan gula sebagai peledak dan sekrup sebagai pecahan peluru. Mereka mengatakan Ullah terinspirasi propaganda ISIS, yang menyeru para pendukungnya untuk melakukan serangan-serangan `independen`.

Tim jaksa mengatakan, sebelum serangan itu, Ullah menulis di Facebook.

"Trump kau gagal melindungi negaram," tulis Ullaj diikuti dengan pesan dalam bahasa Arab yang berisi pernyataan dukungan bagi IS.

Sebelumnya, Ullah tinggal bersama ibu, saudara perempuan dan dua saudara laki-laki di Brooklyn. Ullah memiliki kartu penduduk tetap Amerika Serikat. Namun, pada saat Ullah melakukan serangan, istrinya tinggal di Bangladesh. Pasangan ini memiliki seorang bayi laki-laki berusia enam bulan.

Berdasarkan pengakuan istri Ullahkepada penyelidik Bangladesh, sebelum pindah ke Amerika Serikat, Ullah tidak menjalankan ibadah secara teratur. Selain itui, pihak berwenang juga mengatakan Ullah tidak memiliki catatan kejahatan di negara asalnya. (RWS/ist)



Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar