Jakarta, Indonesia | Sunday, 18-02-2018

NEWS UPDATE

Satu layar dengan Vietnam, Indonesia kalah pencapaian

Redaksi CityPost | Kamis,19 Mei 2016 - 13:04:27 WIB

Minggu ,8/5/2016 00:40 WIB/AmroniOni - citypost Di tengah-tengah ekonomi dunia yang mengalami pemulihan lambat, selama lima bulan pertama tahun 2015 pemerintah Vietnam mengeluarkan keputusan-keputusan penting yang menjadi panduan bagi para menteri hingga ke jajaran di level bawah dan para pimpinan di daerah. Prestasi-prestasinya antara lain stabilitas makroekonomi dijaga, pertumbuhan lebih tinggi dari yang diperkirakan, GDP kuartal pertama tahun 2015 mencapai 6,03 persen, melampaui perkiraan dan lebih tinggi 5,06 persen dari yang dicapai pada 2014, inflasi terendah selama bertahun-tahun (0,04 persen dalam empat bulan pertama tahun 2015); pertumbuhan ekspor yang memuaskan dengan mencapai 50,1 miliar dolar AS (naik 8,2 persen). Pasar uang di dalam negeri stabil, ditunjukkan dengan likuiditas sistem perbankan dijamin, tingkat bunga dan pinjaman menurun yang memungkinkan perusahaan-perusahaan dapat memperluas bisnis produksi, pertumbuhan kredit dalam empat bulan pertama tahun 2015 mencapai 2,78 persen, tingkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Pasar juga secara perlahan pulih. Pasar saham menjadi lebih menarik, pasar real estat berkembang, volume transaksi di Hanoi dan Ho Chi Minh City meningkat tiga kali lipat melebihi apa yang dicapai selama kurun waktu yang sama selama 2014. Apa yang dicapai oleh Vietnam selama kurun waktu itu mendapat apresiasi dari pakar dan berbagai institusi seperti World Bank, IMF, ADB dan HSBC dan menumbuhkan kepercayaan terhadap prospek cerah ekonomi negara itu di masa depan. Ekonomi Vietnam dalam waktu singkat akan terus stabil dan tumbuh karena pemerintahnya berusaha mengatasi berbagai hambatan yang masih ada dan merestruktur ekonomi agar dapat berkembang lestari untuk jangka waktu panjang. Organisasi-organisasi keuangan seperti WB, IMF, ADB dan HSBC memperkirakan pertumbuhan GDP Vietnam pada 2015 mencapai 6 persen, pada 2016 (6,2 persen) dan pada 2017 (6,5 persen). Memperhatikan prospek ekonomi Vietnam yang menjanjikan itu, Indonesia dapat memanfaatkan peluang-peluang usaha yang ada misalnya di sektor perdagangan makanan laut. Vietnam ingin meningkatkan impor produk-produk perikanan dari Indonesia. Berdasarkan data dari Departemen Umum Bea dan Cukai Vietnam, total nilai perdagangan bilateral antara Vietnam dan Indonesia pada 2014 di sektor produk makanan laut sebesar 49,3 juta dolar AS, meningkat 71,91 persen dibandingkan tahun 2013. Ekspor Vietnam mencapai 5,3 miliar dolar dan ekspor Indonesia senilai 43,9 juta dolar. Pada tahun 2014, ekspor beras dari Vietnam ke Indonesia mencapai 327.648 juta ton (atau naik 170.795 juta ton pada 2013) dengan total nilai tercatat 150,6 juta dolar (naik 64,93 persen) dibandingkan tahun 2013. Hanya dalam kurun waktu empat bulan pertama tahun 2015, Vietnam mengekspor produk makanan laut ke Indonesia senilai 0,8 juta dolar sementara ekspor Indonesia memperoleh 8,9 juta dolar. Total nilai selama empat bulan pertama tahun 2015 menurun 50,03 persen dibanding periode yang sama pada 2014. Selama periode itu, ekspor beras dari Vietnam mencapai 4,850 juta ton (naik 3,45 juta ton) dengan nilai total mencapai 1,9 juta dolar atau mengalami kenaikan 167,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2014. Di sektor bisnis makanan laut khususnya, peluang terbuka luas karena Vietnam tertarik membeli udang, rumput laut, kepiting dan ikan hias dari Indonesia. Lalu pertanyaannya adalah mampukah Indonesia memenuhi kebutuhan Vietnam tersebut? Tampaknya Indonesia belum bisa memenuhi permintaan tersebut karena berbagai kendala.(red/antni/antara)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar