Jakarta, Indonesia | Saturday, 17-11-2018

NEWS UPDATE

Setnov Tidak Dalam Keadaan Darurat Saat Dibawa ke RS Medika

AL | Senin,09 Apr 2018 - 14:05:49 WIB

Mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto.foto.ist


Jakarta, CityPost - Dokter spesialis jantung RS Medika Permata Hijau Mohamad Toyibi menjadi saksi untuk dokter RS Medika Permata Hijau dokter Bimanesh Sutarjo yang didakwa bekerja sama dengan advokat Fredrich Yunadi untuk menghindarkan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) diperiksa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi. Toyibi menilai, Setnov tidak dalam kondisi darurat saat dibawa ke rumah sakit tersebut.

"Saya periksa pasien di lantai 3 pada 17 November 2017, kemudian saya periksa pasien ini tidak ada masalah pada jantungnya. Dilihat dari EKG-nya (ektrokardiogram) tidak ada kegawatan pasien SN (Setya Novanto), EKG-nya baik, jadi bukan kondisi darurat," katanya dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (9/4/18).

Toyibi adalah dokter yang memeriksa Setnov sehari setelah mantan Ketua Umum Golkar itu masuk ke RS Medika Permata Hijau pada 16 November 2017.

"Saat diperiksa kondisinya cuma ada luka lecet kalau tidak salah di kening kiri," ungkapnya.

Menurut Toyibi, saat itu perban Setnov tampak hanya menempel. Dalam sidang yang berlangsung pasa Senin (2/4/18) lalu, perawat Indri Astuti yang hadir seagai saksi mengaku bahwa Setnov meminta dahinya diperban meski luka lecet itu tidak perlu diperban.

"Waktu saya lihat lukanya terbuka, ada perban tapi menyingkap, perbannya bukan seperti betulan tapi seperti ditempel, yang saya lihat begitu, tidak ada benjolan," jelasnya.

Toyibi juga sempat membuka baju Setnov dab memeriksa dadanya, Menurutnya, dada Novanto mulus, tidak ada masalah.

"Dinding jantung kita sangat kuat, jadi jarang sekali terjadi kalau kecelakaan lalu luka terkena di jantung kecuali ada luka tusuk, dan tidak ada luka biru. Jantungnya pun baik meski sudah pasang ring," ujarnya.

Toyibi mengakui, saat itu dirinya memeriksa Setnov karena diminta oleh dokter Bimanesh Sutarjo untuk melakukan konsultasi.

"Bimanesh meminta saya evaluasi jantungnya sekaligus dilampirkan gambar EKG-nya," ungkapnya.

Dalam persidangan, Toyibi mengaku dirinya baru mengetahui mengenai Setnov dari breakingnews di televisi, kemudian ada pesan melalui whatsapp dari supervisor perawat yang memintanya memeriksa pasien atas nama SN.

"Setelah saya perika, saya keluar ruangan ada dokter dari KPK yang bertanya apakah pasien ini transportable atau tidak? Saya jawab bisa karena jantungnya tidak bermasalah, saat itu kondisi pasien sadar betul. Terakhir saya baru tahu namanya (dokter) Johannes," ceritanya.

Toyibi mengatakan, setelah itu ia pun keluar untuk shalat Jum`at, dan ketika kembali ke RS, Setnov sudah akan dipindah ke RSCM dan pelataran RS Medika Permata Hijau sudah banyak orang.

Sedangkan, dokter spesialis bedah Djoko Sanjoto Suhud mengaku juga mendapat pesan melalui whatsapp dari dokter Bimanesh yang memohon konsul pasien dengan riwayat jantung kronis dan riwayat trauma.

"Di jalan menuju Medika, saya ditelepon lagi oleh perawat supervisor tidak usah datang ke rumah sakit karena pasien SN akan ditransfer ke RSCM, saya di jalan balik lagi karena pak SN udah mau ditransfer, jadi saya tidak pernah lihat pasien," ungkapnya.

Djoko menambahkan, dari surat konsultasi itu ia juga mengaku tidak ada kondisi darurat yang disebutkan Bimanesh.

"Dari surat konsul tidak ada daruratnya," katanya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar