Jakarta, Indonesia | Monday, 20-08-2018

NEWS UPDATE

Sidang Perkara HS Terus Berlangsung

Hen | Rabu,23 Mei 2018 - 19:50:38 WIB

Foto ist/WE

Sorong, CityPost - Sidang lanjutan dalam perkara Henry Sitorus (HS) dengan agenda pembelaan dan pledoy dari Kuasa Hukum dan Henry Sitorus atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum terlihat melibatkan beberapa oknum yang tidak pernah dihadirkan selama persidangan, salah satunya LW yang adalah wartawan pada salah satu televisi lokal di Kota Sorong juga ikut terlibat dalam perkara ini yakni membeli pil Somadril dari Henry Sitorus. Demikian dikatakan Kuasa Hukum dari Henry Sitorus, Jenly Simanjuntak, SH, kepada awak media seusai persidangan di Pengadilan Negeri Klas IIB Sorong.
 
Dikatakan Simanjuntak, bahwa munculnya nomor handphone pada surat tuntutan yang dibacakan oleh JPU pada persidangan minggu lalu, membuat kami sempat kaget juga, mengapa dalam berita acara, surat dakwaan tidak ada nomor handphone, kok tiba-tiba pada surat tuntutan muncul nomor handphone.
 
Selain itu juga, kata Kuasa Hukum, banyak kejanggalan dan mengada-ada dalam tuntutan yang dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum, membuat perkara ini seperti direkayasa dan bermuatan politik seperti dalam surat dakwaan tertulis tanggal 28 Mei Terdakwa I, Henry Poltak Sitorus pada tanggal 28 Mei 2017 mengirimkan atau transfer uang kepada terdakwa III, Irmawati sebesar 20 juta rupiah dan 250 ribu rupiah.
 
Padahal, kata Simanjuntak, dalam fakta persidangan saat ditunjukan bukti transaksi bank (rekening koran) tidak pernah ada transfer yang dilakukan oleh Terdakwa Henry Poltak Sitorus kepada Terdakwa III Irmawati pada tanggal 28 Mei, yang ada pada tanggal 29 Mei itupun hanya sebesar 20 juta rupiah untuk membeli barang-barang Butik Hugos, karena saat itu Terdakwa III sebagai pengelola Butik Hugos bukan untuk membeli mumbul atau somadril dan tidak 250 ribu rupiah kepada Terdakwa III.
 
“Jaksa Penuntut Umum juga keliru menuliskan dalam surat dakwaan, bahwa tanggal 28 Mei ada transaksi sebesar 20 juta rupiah dan 250 ribu rupiah, sementara yang tertulis dalam surat tuntutan ada transaksi di tanggal 29 Mei sebesar 20 juta rupiah, lalu mana yang benar. Kalau hanya masalah transaksi lalu orang semua dihukum, itukan tidak mungkin,” terang Simanjuntak. (Hen/ist-WE)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar