Jakarta, Indonesia | Sunday, 18-02-2018

NEWS UPDATE

Supir Angkutan Wisata Perlu Tempat Istirahat Yang Layak

AL | Senin,12 Feb 2018 - 14:43:46 WIB

Bus Pariwisata terguling dan menabrak sepeda motor di tanjakan Emen, Kampung Cicenang, Desa/Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu (11/2/18).foto.ist

Jakarta, CityPost - Kecelakaan Bus pariwisata PO Premium Fassion yang terjadi pada Sabtu (10/12/18) sore menambah daftar musibah maut di tanjakan Emen yang berlokasi di Kampung Cicenang, Desa/Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Bus maut tersebut mengangkut 50 penumpang yang merupakan  rombongan wisatawan dari Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Kecelakan yang menewaskan 27 orang dan melukai 18 orang inu terjadi saat rombongan pulang dari objek wisata Tangkuban Perahu. 

Tim dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan, kecelakaan bisa terjadi dikarenakan faktor kelelahan si pengemudi, bukan terkait mitos-mitos di kawasan itu. 

Menurut Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setidjawarno, untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan karena efek kelelahan pengemudi, pihak-pihak terkait perlu menyediakan tempat istirahat yang layak untuk pengemudi angkutan wisata 

"Terulangnya kecelakaan bus pariwisata sangat sering terjadi. Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya antara lain sopir bus pariwisata sering alami perlakuan yang kurang menyehatkan fisiknya," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Djoko menambahkan, seharusnya tempat wisata atau tempat menginap wisatawan juga menyediakan ruang khusus untuk pengemudi bus wisata. Ia mengungkapkan, sebenarnya hal tersebut sudah pernah direkomendasikan KNKT yang ditujukan ke Kementerian Pariwisata dalam hal membuat standar pelayanan minimal untuk kawasan wisata dan asosiasi perhotelan.

"Tempat istirahat yang layak sangat dibutuhkan pengemudi bus pariwisata supaya kondisi fisik pengemudi bisa pulih dan tidak mudah ngantuk ketika mengemudi karena tidak mendapat waktu istirahat yang cukup, tidur di tempat yang kurang layak, seperti di ruang bagasi bus, dalam bus atau di lapangan terbuka," tuturnya.

Djoko menyebutkan, biasanya kecelakaan transportasi disebabkan oleh faktor manusia, prasarana, sarana dan lingkungan. 

"Penyebab setiap kecelakaan dikarenakan beragam hal. Oleh karenanya, perlu investigasi oleh KNKT," imbuhnya.

Djoko juga tidak memnungkiri adanya praktik kecurangan saat pelaksanaan uji kendaraan bermotor (KIR) yang meloloskan kendaraan umum tidak layak untuk bisa digunakan sebagai angkutan publik. Karena itulah ia beharap masyarakat juga bisa mengantisipasi agar terhindar dari kecelakaan akibat menggunakan sarana transportasi yang tidak layak.

"Antisipasi dari masyarakat juga harus ada. Jangan hanya tertarik dengan tawaran sewa bus pariwisata yang murah, tapi keselamatan terabaikan. Mintalah foto kopi STNK, uji KIR, SIM pengemudi dan izin usaha transportasinya. Manajemen perusahaan juga wajib memberinya," katanya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar