Jakarta, Indonesia | Sunday, 25-02-2018

NEWS UPDATE

UGM Kukuhkan Yayi Suryo Jadi Guru Besar Bidang Kesehatan

AL | Kamis,15 Feb 2018 - 09:38:33 WIB

Yayi Suryo Prabandari.foto.ist

Sleman, CityPost - Universitas Gadjah Mada (UGM) akan mengukuhkan Yayi Suryo Prabandari sebagai Guru Besar Bidang Kesehatan. Iakan menjadi guru besar pertama di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM. Sekaligus, di seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia. Wanita kelahiran Yogyakarta pada 15 November 1964  ini dikukuhkan sebagai guru besar pada 15 Februari 2018. Dalam pidato pengukuhan di Balai Senat UGM, Yayi akan mengangkat tajuk `Promosi Kesehatan dalam Pengendalian Perilaku Merokok di Indonesia: Antara Fakta dan Harapan`. Menurutnya, penyakit kecanduan merokok kini telah menjadi tantangan penggiat pelayanan kesehatan, terutama layanan promosi kesehatan sehinggapPromosi kesehatan merupakan proses untuk mendorong orang meningkatkan kendali dan meningkatkan keadaan kesehatannya.

Saat bertemu dengan bara awak media, Rabu (14/2/18) kemarin, Yayi banyak membahas tentang masih sulitnya mengubah perilaku atau kebiasaan orang merokok di Indonesia. Salah satu program yang dia luncurkan bekerja sama dengan pemerintah kota Yogyakarta adalah kampung bebas asap rokok, program ini dideklaerasikan dua tahun lalu dan ada penurunan jumlah perokok walaupun hanya 3 persen waktu itu. Meskipun demmikian capaian terbesarnya adalah sedikitnya 50 persen para perokok ini tidak merokok di dalam rumah. 

"Kami optimis karena walaupun sedikit tapi ada juga yang berhenti, itu berdasarkan laporan dari kualitatif. Yang jelas sebagain besar sudah mengurangi rokok yang dihisapnya," katanya

Menurut Yayi pendekatan dialogis adalah langkah yang tepat dilakukan di Yogyakarta karena masyarakatnya yang masih aktif melakukan pertemuan-pertemuan di lingkungannya. 

"Saat ini sedikitnya ada 130-an rumah yang bebas asap rokok," imbuhnya.

Yayi menuturkan, secara nasional sampai saat ini pengendalian rokok masih belum dijalankan secara optimal karena masih banyak iklan rokok berseliweran, sedangkan 140 negara lain sudah melarangnya.

"Rokok di Indonesia masih murah, dan hanya di Indonesia rokok bisa dijual perbatang. Ini memprihatinkan, bagaiamana saat ini penyakit tidak menular sudah menggeser penyakit menular dan menyadi penyebab utama kematian," ujar kakak kandung mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo ini.

Yayi mengingatkan, kebiasaan merokok salah satu faktor risiko penyakit tertentu, seperti jantung. Pada tahun 2016, kelompok diagnosis penyakit jantung kardiovaskuler memberikan beban JKN sebesar Rp 7,4 triliun.

Pendalaman keilmuwan, pengajaran dan kegiatan terkait pengendalian tembakau di Indonesia yang digeluti selama 20 tahun lebih sukses mengantarkan Prof Yayi mencapai gelar akademis tertinggi sebagai ilmuwan sosial. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar