Jakarta, Indonesia | Wednesday, 23-01-2019

NEWS UPDATE

Warga Lombok Dihantui Sindrome Guncangan Khayalan

RWS | Minggu,02 Sept 2018 - 22:34:33 WIB

Ilustrasi Gambar/foto ist

Jakarta, CityPost – Bencana gempa bumi yang tak kunjung usai mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya tengah menyisakan kepedihan dan rasa traumatik yang mendalam kepada sebagian besar warga Lombok.

Selain memicu kerusakan parah dan banyaknya korban jiwa, saat ini warga Lombok masih dihantui rasa ketakutan yang besar akan guncangan yang terus terjadi. Menurut seorang ahli, gempa telah membuat sugesti dan mengganggu psikologis warga hingga berubah menjadi guncangan atau gempa khayalan.

Hal itu disampaikan oleh Ahli Psikologis Mataram, Dr. Muazar Habibi yang mengatakan saat ini warga Lombok banyak yang mengalami Phantom Quake Syndrome yang artinya mereka banyak mengalami gempa khayalan dibenak mereka dimana ketika ada getaran sedikit mereka anggap sebagai gempa.

“Kalau gempanya satu atau dua kali mungkin tidak akan berpengaruh pada pertahanan tubuh, tapi ini karena terjadi terus-menerus selama tiga minggu, sehingga individu merasa ada getaran sedikit itu sudah merupakan gempa, bahkan sepeda motor lewat saja sudah merasa seperti gempa, buka pintu sudah seperti gempa,” terang Muazar pada Minggu (2/9).

Phantom Quake Syndrome menurut Muazar tengah dialami hampir semua masyarakat Lombok. Gempa khayalan ini merupakan reaksi sistemik yang mempengaruhi ketidaksadaran individu karena dipicu oleh seringnya gempa susulan yang terjadi selama ini.

“Sekitar 99,9 persen masyarakat Lombok mengalami hal demikian, ini adalah reaksi sistemik yang dipengaruhi ketidaksadaran. Ketidaksadaran itu ditekan faktor emosi campur rasa takut. Sehingga merespon sesuatu secara paranoid dengan merasa ada getaran-getaran,” tegas Muazar.

Untuk menghilangkan sugesti paranoid gempa itu menurut Muazar semua tergantung individu masing-masing dan intesitas aktivitas yang dilakukan dalam keseharian hingga menyebabkan syndrome tersebut akan hilang dengan sendirinya.

“Ini wajar dan akan berangsur-angsur hilang jika individu itu beraktivitas seperti biasa sebelum dia terkena gempa. Tidak semua orang bisa merespons itu, ada orang yang apatis itu berbahaya,”tukasnya.

Dr. Muazar menjelaskan, sindrome tremor merupakan sebuah gejala yang dipengaruhi getaran tertentu yang tidak bisa dilupakan oleh semua orang, mereka yang bisa beranjak dari semua sindrome itu adalah mereka yang memiliki aktivitas dan kesibukan. (RWS/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar