Jakarta, Indonesia | Thursday, 19-07-2018

NEWS UPDATE

Wiranto: Ancaman Narkoba Jadi Instrumen Perang Proksi

AL | Kamis,12 Jul 2018 - 14:05:20 WIB

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Wiranto.foto.ist

Bogor, CityPost - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn) Wiranto, menyebut ancaman narkoba sebagai salah satu instrumen perang proksi yang akan mengancam bonus demografi Indonesia.

"Ini serius sekali, tadi dikatakan ancaman narkoba bisa menjadi instrumen proxy war, untuk perang baru, perang lebih murah, lebih tidak kentara, tapi korbannya betul-betul sungguh sangat mencemaskan," katanya saat mengunjung Pusat Rehabilitasi BNN, Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/7/18).

Menurut Wiranto, saat ini bahaya narkoba ini bukan lagi di depan mata, tetapi sudah dialami langsung dan sangat nyata oleh bangsa Indonesia. Bahkan, pengungkapan sejumlah kasus narkoba jumlahnya tidak lagi hitungan gram, tetapi dalam jumlah ton. 

"Bisa dibayangkan satu gram saja bisa bikin teler lima orang, apalagi ton, berapa juta orang bisa teler." ujarnya.

Karena itulah, Wiranto  mengajak semua pihak, seluruh komponen masyarakat bangsa Indonesia untuk bersama-sama mendukung upaya pemerintah melalui BNN dalam perang melawan narkoba. Ia menegaskan, perang melawan narkoba harus total, didukung oleh seluruh komponen bangsa Indonesia. Menurutnya, tanpa totalitas, maka generasi muda Indonesia akan menjadi sampah, karena tantangan dari bangsa yang luas ini banyaknya pintu masuk bagi peredaran narkoba.

"Negara kita luas pintu masuknya, kita kan negara maritim kalau kita tidak bisa mengawasi, kita harus total melawan narkoba baik pencegahan dan penanganan peredarannya maupun rehabilitasinya," tuturnya.

Wiranto juga meminta agar para mantan pecandu narkoba yang telah mendapat rehabilitasi dapat lebih mengoptimalkan perannya untuk memberikan edukasi, atau mengajak rekan-rekannya untuk menjauhi narkoba melalui pengalaman-pengalaman yang dirasakan selama menjadi pecandu.

"Kita lihat para pencandu yang mendapat rehabilitasi, mereka bersyukur setelah direhabilitasi, merasa dilayani. Pengalaman ini bisa mereka bagikan jangan buat sendiri saja, tetapi disampaikan ke pengguna lainnya untuk insaf," katanya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar