Jakarta, Indonesia | Friday, 23-10-2020

NEWS UPDATE

BI: Indonesia Terlambat Dalam Pengembangan Ekonomi Syariah

AL | Selasa,11 Des 2018 - 13:27:49 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Surabaya, CityPost - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim perlu lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan ekonomi syariah dibanding negara-negara lain. Ia mengakui saat ini Indonesia terlambat beberapa langkah dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

"Bagaimana kita tertinggal, tidak usah dibandingkan dengan Malaysia jauh, Uni Emirat Arab, jauh. Kita juga kalah dengan Australia," ujar Penny dalam pembukaan diskusi `Indonesia Sharia Economic Festival` di Surabaya, Selasa (11/12/18).

Perry menyoroti keterlambatan itu dalam bidang produksi komoditas industri halal. Menurut Penny, seharusnya Indonesia bisa menjadi negara eksportir komoditas industri halal tanpa bergantung dari negara lain. Bahkan, Indonesia juga belum lebih unggul dibanding negara-negara yang penduduknya mayoritas non muslim seperti Australia, dan Thailand yang mampu mengekspor komoditas industri halal ke negara mayoritas berpenduduk muslim.

"Saya berpikir masa kita harus impor bumbu rawon halal dari Thailand," ujarnya.

Menurut Perry, Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dengan terus mengembangkan produksi industri halal. Peningkatan kapasitas produksi indsutri halal dapat dilakukan, salah satunya, melalui pemberdayaan ekonomi pesantren

Perry menuturkan, pesantren sudah memiliki akar ekonomi yang mandiri. Saat ini, kata Perry, Indonesia dapat fokus mengembangkan berbagai unit usaha ekonomi di pesantren berpotensi menumbuhkan kerja sama lintas pesantren. Hal ini selanjutnya didorong dengan efisiensi bisnis melalui insiatif penyediaan pasar virtual produk usaha pesantren sekaligus kerja sama bisnis. Dengan program pengembangan kemandirian pesantren ini diharapkan dapat mendorong pesantren sebagai penggerak utama dalam ekosistem rantai nilai

"Perlu juga `holding` pesantren dan penyusunan standarisasi laporan keuangan untuk pesantren dengan nama SANTRI (Standar Akuntansi Pesantren Indonesia) yang dapat digunakan oleh setiap unit usaha pesantren," kata Perry. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar