Jakarta, Indonesia | Tuesday, 27-10-2020

NEWS UPDATE

Mapak Tanggal Suro Sebuah Esensi Keramat Ditanah Jawa

Hen | Senin,02 Sept 2019 - 15:05:28 WIB

Praktisi Budaya Spiritual Kudus, Putri Ismoyo/foto ist

Kudus, CityPost – Perayaan pergantian tahun kalender Islam yang saat ini memasuki tahun 1441 Muharram bukan hanya diperingati oleh seluruh umat Muslim dunia, tetapi momen ini juga menjadi momen penting bagi kebanyakan penganut aliran kebudayaan kejawen yang menamakan pergantian tahun dalam istilah Jawa Malam Satu Suro.

Peringatan Malam Satu Suro inilah yang kerap ditunggu oleh para pelaku kejawen. Biasanya pada malam ini banyak digelar berbagai acara, ritual dan kegiatan religius lainnya dalam menghormati berbagai tradisi leluhur dan memohon berkah dalam pergantian tahun berikutnya.

Sama halnya dengan perayaan Malam Satu Suro yang jatuh pada 31 Agustus 2019 dan persis 1 Suro itu sendiri jatuh pada 1 September 2019. Pada perataan kemarin hampir mayoritas masyarakat Jawa yang percaya dan menganut aliran kejawen merayakannya dengan berbagai macam kegiatan, salah satunya seperti Mapak Tanggal Suro yang hingga kini masih dikeramatkan masyarakat setempat.

Seperti halnya yang dijelaskan oleh praktisi kebudayaan dan spiritual Kudus, Jawa Tengah. Putri Ismoyo. Dikatakan bahwa perayaan Muharram atau Suroan merupakan momen yang kerap digunakan untuk melakukan tradisi seperti ruwatan ataupun doa bersama yang dikenal dengan istilah Mapak Tanggap Suro. Ini merupakan tradisi yang dikeramatkan oleh orang-orang Jawa.

“Kebanyakan Mapak Tanggal Suro dilakukan secara bersama-sama dengan munggah gunung dan doa bersama lalu diirngi dengan ngumbah keris dan ritual doa awal tahun,” ungkap Putri Ismoyo saat dimintai tanggapan wartawan citypost.

Putri Ismoyo mengatakan Mapak Tanggal Suro seperti perayaan lebaran, dimana para pelaku kebatinan menjadikan momen Malam itu untuk bersuka ria, mengadakan acara diberbagai kota dan juga ikut melaksanakan ritual. Kebiasaan itu kerap digunakan oleh mereka yang masih menganut aliran kebudayaan kejawen.

Perayaan Satu Suro itu sendiri menurut Putri Ismoyo masih banyak dan meriah diperingati diberbagai padepokan yang ada diwilayah tanah Jawa, pasalnya mereka sangat mengeramatkan tanggal 1 Suro tersebut. Sebagian besar warga dan penganut meyakini dan menghormati bahwa tanggal 1 Suro sebagai tanggal keramat yang harus disambut dan dirayakan dengan berbagai macam adat serta tradisi leluhur dengan istilah Mapak Suro.

“Mapak Suro merupakan istilah sebuah perayaan, penghormatan terhadap Malam Satu Suro yang hingga kini masih dilakukan diberbagai padepokan di tanah Jawa dengan berbagai acara dan ritual maupun doa. Mereka mengkeramatkan hal itu dan kebanyakan menginginkan keberkahan pada pergantian tahun sesuai kepercayaan dan keyakinan penganutnya,” jelas Putri. (Hen/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar