Jakarta, Indonesia | Wednesday, 28-10-2020

NEWS UPDATE

BPOM Belum Kasih Izin Obat Corona Versi Unair

Pus | Rabu,19 Agus 2020 - 22:28:25 WIB

Ilustrasi Gambar/foto ist SSV youtube Kompas TV

Jakarta, CityPost – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti menyampaikan bahwa pihaknya akan memberikan izin edar terhadap obat corona yang ditemukan oleh Universitas Airlangga (Unair), TNI AD dan BIN, jika proses uji klinis sudah sesuai prosedur dan kaidah ilmiah serta dianggap sudah valid.

Sementara ini, Penny mengatakan obat temuan Unair tersebut masih masuk dalam kategori obat keras yang berpotensi memicu efek samping.

“Obat ini adalah kombinasi ini adalah obat keras, tentunya ada efek samping yang bisa ditimbulkan,” ungkap Penny.

Kendati demikian, Penny belum memberitahukan apa efek samping yang ditimbulkan dari obat corona yang berhasil dikembangkan oleh Unair, TNI AD dan BIN tersebut.

Penny hanya mengatakan pihaknya masih melakukan pengamatan lebih lanjut untuk mencari tahu apa efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat tersebut dan katanya memerlukan waktu yang lebih lama.

Selain itu, Penny juga menegaskan bahwa obat corona itu tidak bisa diberikan kepada sembarang orang khususnya pada pasien Covid-19 yang tidak bergejala. Disebutkan, obat corona versi Unair, TNI AD dan BIN terdiri dari tiga kombinasi antara lain, Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin, kemudian Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline lalu Hydrochloroquine dan Azithromyci.

“Kita masih antisipasi efek sampingnya ya, sehingga tidak bisa diberikan kepada sembarang orang, apalagi orang yang tidak sakit, orang tanpa gejala,” ujar Penny.

Diketahui, sejauh ini BPOM menyatakan bahwa hasil inspeksi mereka atas obat corona kembangan Unair, TNI AD dan BIN belum memenuhi standar uji klinis karena subjek uji klinis hanya kepada calon perwira di Secapa Jawa Barat  yang kebanyakan merupakan kasus dengan gejala ringan.

Sementara, subjek uji klinis obat semestinya dilakukan secara acak dengan melihat gejala penyakit dalam skala ringan, sedang dan berat. Kemudian, kata Penny, melihat demografi penduduk dan harus memberikan dampak yang signifikan kepada subjek. (Pus/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar