Jakarta, Indonesia | Wednesday, 21-04-2021

NEWS UPDATE

Polri Jelaskan Kematian Ustadz Maaher Respon Cuitan Novel

Chan | Rabu,10 Feb 2021 - 23:02:01 WIB

Ustadz Maher At Thuwailibi alias Soni Eranata/foto ist akun twiiter Ustadz Maher At Thuwailibi alias Soni Eranata

Jakarta, CityPost – Kematian Ustadz Maher At Thuwailibi alias Soni Eranata di rumah tahanan Salemba cabang Bareskrim Polri pada Senin (8/2) lalu telah memicu berbagai pertanyaan terkait penyebab dan apa sakit yang dideritanya selama ini.

Penyelidik Senior KPK, Novel Baswedan kemudian ikut berkomentar menanggapi kematian Ustadz Maher dengan kritik keras terhadap Polri.

Novel melalui akun twitter pribadinya meminta aparat penegak hukum tidak keterlaluan dalam menangani perkara penghinaan.

“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Ustadz Maaher meninggal di rutan Polri. Padahal kasusnya penghinaan, ditahan, lalu sakit. Orang sakit, kenapa dipaksakan ditahan? Aparat jangan keterlaluanlah. Apalagi dengan ustadz. Ini bukan sepele lho,” cuit Novel melalui akun @nazaqista pada Selasa (9/2) yang langsung direspon masif oleh netizen.

Seraya merespon cuitan Novel dan menjelaskan kronologi kematian Ustadz Maaher, pihak kepolisian melalui Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan bahwa terkait kasus Ustadz Maaher ini sejatinya sudah tahap dua atau sudah diserahkan kepada Kejaksaan. Namun, sebelum tahap II atau penyerahan barang bukti dan tersangka kepihak Jaksa, Maaher sempat mengeluh sakit. Setelah itu, tim dokter dan petugas rutan membawanya ke RS Polri Kramat Jati.

“Setelah diobati dan dinyatakan sembuh, yang bersangkutan dibawa lagi ke rutan bareskrim,” jelas Argo di Jakarta pada Senin (8/2) lalu.

Sementara itu terkait penyebab sakitnya, Argo mengaku tidak mengetahuinya. Dia mengatakan, setelah barang bukti dan tersangka diserahkan ke Jaksa, Maaher mengeluh sakit lagi dan petugas rutan serta tim dokter akan mengusulkan untuk dibawa kerumah sakit namun, Maaher menolak sampai akhirnya meninggal dunia.

Senada dengan Argo, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan, semula Maaher ditahan tidak dalam keadaan sakit, dia mengalami sakit pada proses masa penahanan.

“Ketika sakit itupun sudah mendapat perawatan kesehatan di RS Polri sampai kurang lebih 7 hari dirawat disana. Setelah sehat, kembali lagi ke Bareskrim Polri,” ucap Rusdi di Mabes Polri Jakarta pada Selasa (9/2).

Rusdi menambahkan, usai kembali ke rutan dan kembali mengeluh sakit, Maaher diusulkan ke rumah sakit namun yang bersangkutan menolak.

“Pada saat itulah sakit sudah diminta untuk dirawat dirumah sakit tapi yang bersangkutan tidak menginginkan kerumah sakit. Dia tetap ingin berada di Rutan Bareskrim, sudah ditawarkan tapi almarhum tidak menginginkan (dirawat),” jelasnya.

Sementara itu, terkait kenapa pihak Bareskrim tidak mengijinkan Maaher untuk berobat dan dirawat di RS Ummi Kota Bogor seperti yang disampaikan oleh kuasa hukumnya. Rusdi mengatakan, pihaknya tidak mengizinkan pasalnya di RS Polri masih memiliki ruangan khusus, penjagaan khusus termasuk dokter-dokternya punya kemampuan untuk merawatnya. (Chan/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar