Jakarta, Indonesia | Wednesday, 21-04-2021

NEWS UPDATE

China Bantah Lakukan Genosida Terhadap Uighur

And | Rabu,24 Feb 2021 - 22:13:33 WIB

Kamp penahanan Uighur di Xinjiang Cina/foto ist SSV youtube HKP

CityPost – Maraknya tudingan dan laporan terkait adanya tindakan genosida yang dilakukan pemerintah China terhadap etnis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang, Beijing akhirnya angkat bicara dan merespon semua tuduhan yang datang dari sejumlah pemimpin negera dan PBB tersebut.

China saat ini membantah disebut telah melakukan genosida dan menegaskan informasi itu sebagai fitnah, khususnya yang menyangkut dengan Muslim Uighur dan minoritas lainnya yang tinggal di Xinjiang.

Penegasan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri China Wang Yi di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. Dia menyampaikan China sangat menghormati kebebasan beragama dan hak-hak fundamental lainnya.

Untuk membuktikan China menghormati kebebasan beragam, Wang Yi mengatakan ada 24.000 Masjid di wilayah barat seraya mengatakan fakta dasar menunjukkan tidak pernah ada kerja paksa atau penindasan agama di Xinjiang.

“Pintu ke Xinjiang selalu terbuka. orang-orang dari banyak negara yang telah mengunjungi Xinjiang telah mempelajari fakta dan kebenaran dilapangan. China juga menyambut Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia untuk mengunjungi Xinjiang,” tegas Wang dihadapan Kepala HAM PBB Michelle Bachelet.

Bantahan itu berbeda dengan yang dilaporkan pihak HAM PBB, mereka mengatakan ada setidaknya satu juta Muslim telah dipenjara dikamp-kamp terpencil yang ada diwilayah barat.

Lagi-lagi China membantah tuduhan itu dan mengatakan kamp-kamp itu sebagai pusat latihan kejuruan dan disiapkan untuk melawan ekstremisme.

Seperti yang dilansir melalui Al Jazeera, disebutkan pada Senin (22/2) lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengecam penyiksaan, kerja paksa dan sterilisasi yang katanya terjadi terhadap Muslim Uighur dalam skala industri.

“Situasi di Xinjiang sangat luar biasa, pelanggaran yang dilaporkan, termasuk penyiksaan, kerja paksa dan sterilisasi paksa terhadap perempuan, sangat ekstrim dan ekstensif. Itu terjadi dalam skala industri,” ungkap Raab dihadapan Forum Jenewa termasuk China yang menjadi anggotanya.

Masalah itulah yang akhirnya di jadikan Raab sebagai dasar agar Bachelet atau ahli independen lainnya untuk meminta diberikan akses yang mendesak dan tidak terkekang kepada China agar bisa ke Xinjiang dan mendorong dibentuknya resolusi untuk memberi efek jera.

Senada dengan Inggris, pada bulan lalu. Komisi Bipartisan Kongres Amerika Serikat, dalam laporan mereka menyebutkan bahwa China kemungkinan telah melakukan genosida terhadap Uighur dan Muslim minoritas lainnya di Xinjiang.

Sedangkan pihak Komisi Eksekutif Kongres untuk China (CECC) mengatakan bahwa mereka mendapatkan bukti baru yang muncul pada tahun lalu tentang kejahatan terhadap kemanusiaan dan mungkin genosida yang sedang terjadi.

Informasi lainnya datang dari Human Rights Watch yang pada Desember tahun lalu menyampaikan adanya program big data di Xinjiang China yang secara sewenang-wenang memilik Muslim untuk ditahan dan hal itu menargetkan perilaku seperti mengenakan kerudung, mempelajari Al Quran atau pergi haji sebagai alasan penangkapan.

Laporan adanya genosida itu di China itu sendiri sejauh ini juga sudah mendapatkan dukungan dari Presiden AS Joe Biden dan untuk itu Biden mengatakan Washington harus siap membebankan biaya kepada pihak China. (And/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar