Jakarta, Indonesia | Saturday, 23-10-2021

NEWS UPDATE

KCBI Serukan Perempuan Peduli Jaga Etika Pakaian Berkain

Retno | Selasa,09 Mar 2021 - 20:37:55 WIB

Jajaran Pengurus Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI)/foto ist

Jakarta, CityPost - Gencarnya arus budaya asing diera modernisasi teknologi saat ini tengah menjadi tantangan tersendiri bagi keberadaan para pengrajin kain Indonesia. Bahkan jika tidak dijaga, potensi hilangnya budaya nusantara sebagai warisan leluhur akan benar-benar menjadi kenyataan.

Salah satu budaya yang telah turun-temurun diwariskan selama ini adalah penggunaan kain yang biasa dipakai oleh para perempuan Indonesia. Stigma klasik alias tradisional dan kurangnya trend modernisasi menjadi faktor berkurangnya para pemakain kain. Bahkan bisa dikatakan budaya itu sudah hampir tergerus jaman yang bisa berdampak pada ekonomi kehidupan para pengrajin kain.

Menyikapi permasalahan tersebut, Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) lalu mencoba untuk mengambil peran didalamnya dengan berjuang mengembalikan citra jati diri budaya agar tidak hilang tergerus jaman. Salah satunya budaya menggunakan kain yang mulai ditinggalkan perempuan Indonesia karena dianggap kuno atau tidak modern.

Ketua Umum Komunitas Cinta Berkain Indonesia Sita Hanimastuty mengatakan bahwa komunitas yang dibentuknya bersama para perempuan tangguh sejak tujuh tahun lalu itu akan terus berkiprah dan mengambil peran dalam mensosialisasikan budaya berkain nusantara agar dicintai dan disukai kalangan milenial.

Sita menjelaskan kegiatan mereka bukan hanya melestarikan budaya berkain dinusantara melainkan juga memberikan edukasi dalam berbusana agar wanita-wanita Indonesia masih bisa mencerminkan budaya ketimuran yang sudah mulai hilang terkontaminasi budaya impor.

Hal itu disampaikannya disela-sela perayaan HUT KCBI yang ke 7 pada Selasa, 9 Maret 2021 ditempat kediaman salah satu ketua pengurus Dyah Sudiro dibilangan Bintaro bersama para pengurus lainnya.

“Diusianya yang ke 7 tahun ini, KCBI menaruh harapan besar, khususnya yang telah berdiri dibeberapa kota besar seperti Lombok, Bali, Malang, bandung, Bogor dan lainnya, agar lebih berperan aktif dan kreatif untuk terus-menerus mensosialisasikan program ini, yang tentunya juga memberikan dukungan kepada pemerintah dalam menjaga kesehatan negeri dengan kegiatan positif ditengah pandemi,” ujar Sita.

Menurut Sita, KCBI adalah pelopor penggiat cinta berkain nusantara yang telah berkiprah bukan hanya di Indonesia melainkan juga di mancanegera seperi Perth Australia dan San Francisco Amerika Serikat.

“Setelah ini kami akan segera membangun dinegara-negara Eropa yang berkaitan dengan cinta budaya sesuai Visi Misi KCBI,” tukas Sita.

Senada dengan Sita, Ketua Satu KCBI Dyah Sudiro mengatakan kegiatan yang mereka lakukan juga sebagai bentuk tanggungjawab estetika dan budaya yang harus dijaga bersama-sama perempuan Indonesia lainnya.

“Bahwa kegiatan ini adalah sebagai bentuk tanggungjawab Estetika dan budaya kita bersama sebagai Perempuan Indonesia untuk meneruskan dan meluruskan jati diri budaya bangsa sebagai khasanah kekayaan asli Indonesia,” kata Dyah.

Dyah berharap budaya berkain akan terus tertanam dibenak generasi muda milenial pasalnya mereka adalah para penerus budaya Indonesia.

“Budaya berkain harus tetap ditanamkan generasi muda, kaum milenial sebagai pewaris dan penerus. KCBI mengajak para perempuan, wanita Indonesia untuk turut ambil bagian dan berkontribusi dengan menggunakan kain nusantara sebagai wujud rasa cinta produk buatan Indonesia yang pada gilirannya dapat meningkatkan perekonomian para pengrajinnya,” Pungkas Dyah. (Ret)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar