Jakarta, Indonesia | Monday, 21-06-2021

NEWS UPDATE

Wartawan Tempo Di Aniaya, Ada Ancaman Pembunuhan

Chan | Senin,29 Mar 2021 - 17:16:16 WIB

Ilustrasi Gambar/foto Andre Citypost

Jakarta, CityPost – Ancaman dan penganiayaan terhadap para pekerja awak media kini kembali terjadi. Saat ini, wartawan dari Tempo yang mengalami penganiayaan hingga adanya ancaman pembunuhan dari sekelompok orang yang mengaku sebagai aparat diwilayah Surabaya, Jawa Timur.

Informasi terkait penganiayaan wartawan itu mencuat ketika Tempo mempublikasi kasus tersebut dan kemudian adanya laporan dari wartawan yang menjadi korban bernama Nurhadi.

Seperti yang dilansir Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya melalui publikasi CNN Indonesia, dijelaskan bahwa saat itu, Nurhadi sedang melakukan tugas jurnalistik, meliput pada Sabtu (27/3) malam lalu.

Disebutkan, Nurhadi sedang melakukan peliputan terkait kasus suap pajak yang diduga tengah menyeret nama Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu, Angin Prayitno Aji dan kasusnya juga sedang diusut oleh lembaga anti rasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Aji menjelaskan bahwa peristiwa penganiayaan terjadi saat Nurhadi mendatangi Gedung Samudra Bumimoro Krembangan, Surabaya sekitar pukul 18.25 WIB. Kebetulan dilokasi sedang diadakan acara resepsi pernikahan anak dari Angin Prayitno dan anak dari Kombes Pol Achmad Yani, mantan Karo Perencanaan Polda Jawa Timur.

Sesaat usai Nurhadi masuk kedalam gedung, dia lalu memotret Angin Prayitno Aji yang sedang duduk diatas pelaminan dengan besannya, sekitar pukul 18.40 WIB. Setelah itu pada pukul 19.57 WIB dia didatangi oleh seorang panitia pernikahan dan Nurhadi juga sempat difoto.

Setelah itu, Nurhadi dihentikan oleh sejumlah orang panitia saat hendak keluar gedung. Dia tanya tentang identitas dan undangan mengikuti acara. Pada pukul 20.10 WIB, Nurhadi dikonfrontir dengan keluarga mempelai dan mereka mengatakan tidak mengenal Nurhadi. Setelah itu, wartawan Tempo tersebut dibawa kebelakang gedung dengan didorong. Disana ponselnya dirampas dan dia mengalami kekerasan verbal, fisik dan ancaman pembunuhan.

“Selama proses tersebut korban mengalami perampasan ponsel, kekerasan verbal, fisik dan ancaman pembunuhan,” ungkap Ketua Aji Surabaya Eben Haezer pada Minggu (28/3) lalu.

Dijelaskan usai dari belakang gedung, Eben mengatakan, Nurhadi kemudian dibawa oleh oknum anggota TNI yang menjaga gedung dan dimasukkan kedalam mobil patroli lalu dibawa ke Pos TNI. Setelah dimintai keterangan dan identitas, Nurhadi lalu dibawa ke Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak, lalu pada pukul 20.55 WIB belum sampai ke polres dia dibawa kembali ke Gedung Samudra Bumimoro.

Didalam gedung Samudra Bumimoro itu, kata Eben, Nurhadi kembali diinterogasi sejumlah orang yang mengaku anggota polisi dan diduga sebagai anggota TNI serta sejumlah ajudan Angin Prayitno Aji. Pada proses interogasi itulah wartawan Tempo mengalami kekerasan, pemukulan, tendangan dan ancaman pembunuhan. Nurhadi juga dipaksa menerima uang Rp. 600.000 sebagai pengganti ponselnya yang dirampas dan dirusak. Namun, oleh korban ditolak. Usai menolak dia dipaksa berpose dengan uang itu dan difoto.

“Belakangan, oleh Nurhadi yang tersebut dikembalikan secara sembunyi-sembunyi oleh dimobil pelaku,” terang Eben.

Eben menjelaskan, pada pukul 22.25 WIB, Nurhadi, dibawa ke Hotel Arcadia di Krembangan Selatan, Surabaya. Disanalah korban kembali diinterogasi oleh dua orang yang mengaku anggota polisi Polrestabes dan anak asuh Kombes Pol Achmad Yani yang bernama Purwanto dan Firman. Setelah itu, Nurhadi diantar pulang kerumahnya oleh mereka berdua.

Menyikapi peristiwa penganiayaan terhadap wartawan itu, Eben selaku Aji Surabaya dan bersama Aliansi Anti Kekerasan terhadap Jurnalis antara lain, KontraS Surabaya, LBH Lentera, LBH Pers dan LBH Surabaya tengah melakukan pendampingan terhadap korban dan menyepakati bakal menempuh jalur hukum. Mereka juga mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus itu dan memastikan para pelaku mendapatkan hukuman sesuai peraturan yang berlaku.

Menurut Eben, para pelaku telah melakukan pelanggaran hukum dengan menghalang-halangi kegiatan jurnalistik dan melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta melanggar UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU Nomor 12 tahun 2005 tentang pengesahan konvensi hak sipil dan politik dan Perkap Nomor 8 tahun 2009 tentang Pengimplementasi Hak Asasi Manusia.

“Kami mengecam aksi kekerasan ini dan mendesak aparat penegak hukum untuk profesional menangani kasus ini, apalagi mengingat bahwa sebagian pelakunya adalah aparat penegak hukum,” tegas Eben. (Chan/ist)

 


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar