Bad Bunny baru aja bikin momen bersejarah di panggung half-time show Super Bowl 2025. Rapper asal Puerto Rico ini jadi musisi pertama yang tampil full pakai bahasa Spanyol di acara paling banyak ditonton se-Amerika Serikat. Tapi ya namanya juga dunia hiburan yang gak bisa lepas dari politik, Donald Trump langsung nge-bash penampilannya habis-habisan.
Penampilan berdurasi 14 menit di Santa Clara, California itu bukan cuma konser biasa. Bad Bunny, yang nama aslinya Benito Antonio Martinez Ocasio, menyulap panggung jadi semacam surat cinta raksasa buat tanah kelahirannya, Puerto Rico. Dari awal sampai akhir, semuanya terasa sangat personal dan penuh makna.
Panggung yang Bikin Merinding
Show dimulai dengan Bad Bunny muncul dari tengah ladang tebu — simbol yang sangat kental dengan kehidupan Puerto Rico. Dari situ, penonton dibawa masuk ke dunia yang merepresentasikan suara dan pemandangan khas kampung halamannya.
Set panggungnya gila-gilaan. Ada salon kuku, ada bar, dan tentu saja ada casita alias rumah kecil khas Puerto Rico yang memang jadi ciri khas tur dunianya. Casita ini bukan cuma pajangan, tapi jadi spot nongkrong buat deretan bintang tamu yang bikin penonton melongo.
Pedro Pascal keliatan santai di teras casita itu. Jessica Alba juga ada, asyik joget-joget. Belum lagi Alix Earle, influencer yang lagi naik daun, ikut meramaikan suasana. Dari dalam casita juga kelihatan Karol G, penyanyi asal Kolombia, sama rapper Cardi B yang kayaknya genuinely having fun nonton show dari situ.
Tamu Spesial yang Bikin Makin Meriah
Kalau casita udah rame, panggung utamanya lebih rame lagi. Lady Gaga muncul buat duet dan membawakan versi Latin dari hitnya Die With A Smile. Penampilan Gaga yang biasanya identik dengan pop dan dance tiba-tiba berubah jadi nuansa Latin, dan hasilnya? Chef’s kiss.
Ricky Martin juga ikut naik panggung. Kehadiran Ricky Martin di situ terasa pas banget — dia kan memang ikon musik Latin yang udah go international sejak lama. Kombinasi Bad Bunny, Lady Gaga, dan Ricky Martin dalam 1 panggung itu rasanya kayak mimpi buat penggemar musik.
Cowok berusia 31 tahun ini memang lagi di puncak kariernya. Menurut data Spotify, dia jadi artis paling banyak diputar di seluruh dunia sepanjang 2025. Jadi wajar aja kalau penampilannya di Super Bowl kali ini punya bobot yang beda.
Medley Lagu-lagu Hits yang Bikin Goyang
Selama 14 menit itu, Bad Bunny gak pelit sama lagu-lagu terbaiknya. Dia membawakan medley dari hit-hit yang udah jadi anthem, termasuk Tití Me Preguntó, MONACO, dan BAILE INoLVIDABLE. Semuanya dibawakan dengan energi yang gak ada matinya.
Yang bikin spesial, semua lagu dinyanyikan dalam bahasa Spanyol. Gak ada kompromi, gak ada usaha buat “menyesuaikan” dengan pasar Amerika yang dominan berbahasa Inggris. Ini bold move yang belum pernah dilakukan siapa pun di sejarah Super Bowl.
Satu-satunya kalimat berbahasa Inggris yang keluar dari mulutnya cuma “God bless America” — dan itu pun diucapkan sebelum dia menyebutkan nama-nama negara di Amerika Tengah, Selatan, dan Utara satu per satu, sementara para penari membawa bendera masing-masing negara.
Pesan Persatuan yang Kuat
Di balik semua kemeriahan itu, ada pesan yang sangat jelas. Di belakang panggung, sebuah billboard raksasa menampilkan tulisan “The only thing more powerful than hate is love” alias satu-satunya hal yang lebih kuat dari kebencian adalah cinta.
Di akhir segmen, Bad Bunny memegang bola football dengan slogan “Together, We Are America” tertulis di atasnya. Pesannya simpel tapi ngena: kita semua bagian dari Amerika, apapun bahasa yang kita pakai, dari mana pun kita berasal.
Momen ini terasa sangat relevan di tengah iklim politik Amerika yang lagi panas-panasnya soal imigrasi dan identitas. Tanpa perlu teriak-teriak atau bikin statement kontroversial, Bad Bunny ngomong banyak lewat simbol-simbol yang dia taruh di panggung.
Trump Langsung Sewot
Nah, di sinilah dramanya mulai. Meskipun Bad Bunny gak bikin pernyataan politik eksplisit sama sekali selama performanya, Presiden Donald Trump — yang gak hadir di Super Bowl tahun ini — langsung nge-post di Truth Social.
Trump bilang penampilan Bad Bunny “absolutely terrible, one of the worst, EVER!” alias benar-benar buruk dan salah satu yang terjelek sepanjang masa. Dia juga menyebutnya sebagai “penghinaan terhadap kebesaran Amerika” dan nyinyir dengan komentar “gak ada yang ngerti apa yang diomongin orang ini.”
Komentar Trump soal gak ada yang ngerti apa yang dibilang Bad Bunny jelas merujuk pada penggunaan bahasa Spanyol. Padahal, bahasa Spanyol adalah bahasa ke-2 paling banyak digunakan di Amerika Serikat dengan lebih dari 40 juta penutur asli. Jadi komentar itu langsung memantik reaksi dari banyak pihak.
Di sisi lain, kelompok konservatif Turning Point USA menyelenggarakan acara tandingan bertajuk All-American Halftime Show yang diisi oleh Kid Rock, musisi yang memang dikenal sebagai pendukung setia Trump.
Tribut untuk Puerto Rico yang Bikin Haru
Salah satu momen paling emosional dari keseluruhan show adalah saat Bad Bunny memanjat tiang listrik sambil nge-rap. Ini bukan aksi akrobatik semata — tiang listrik itu jadi simbol infrastruktur Puerto Rico yang hancur lebur akibat Badai Maria tahun 2017.
Badai kategori 5 itu meluluhlantakkan Puerto Rico dan meninggalkan kerusakan yang dampaknya terasa bertahun-tahun. Momen Bad Bunny di atas tiang listrik itu seperti penghormatan buat ribuan korban yang meninggal akibat bencana tersebut.
Yang menarik, Bad Bunny juga menyampaikan pesan lewat pakaiannya. Dia mengenakan sweater berwarna krem dengan angka 64 tercetak di depannya. Angka 64 ini dipercaya merujuk pada angka kematian resmi yang dirilis pemerintah saat itu — angka yang kemudian terbukti jauh lebih rendah dari kenyataan. Estimasi sebenarnya menunjukkan ribuan orang meninggal akibat badai dan dampak lanjutannya.
Pemerintahan Trump saat periode pertamanya memang dikritik keras oleh warga Puerto Rico karena dianggap gagal memberikan bantuan federal yang setara dengan bencana serupa yang terjadi di daratan utama Amerika. Jadi angka 64 di sweater Bad Bunny itu bukan cuma angka — itu statement.
Momen Keluarga yang Mengharukan
Di tengah semua simbol politik dan budaya itu, Bad Bunny juga menyisipkan momen-momen yang sangat personal dan hangat. Ada adegan pasangan muda yang menikah di tengah kerumunan penari Latino — menggambarkan kehidupan dan perayaan yang jadi bagian dari budaya mereka.
Tapi momen paling mengharukan mungkin saat Bad Bunny menyerahkan piala Grammy-nya ke seorang anak kecil. Di saat bersamaan, pidato penerimaannya di Grammy 2026 diputar di sebuah televisi kecil. Simbolnya kuat banget — seakan-akan dia bilang bahwa pencapaiannya ini bukan cuma buat dirinya, tapi buat generasi berikutnya.
Koreografi penarinya juga gak main-main. Ratusan penari bergerak dengan presisi yang luar biasa, membantu menerangi panggung dan menciptakan visual yang spektakuler. Setiap gerakan punya makna, setiap formasi punya cerita.
Konteks Politik yang Gak Bisa Dipisahkan
Yang bikin banyak orang kaget, Bad Bunny ternyata gak secara langsung menyerang pemerintahan Trump selama performanya. Ini agak mengejutkan mengingat seminggu sebelumnya, di acara Grammy Awards, dia cukup vokal.
Saat menerima penghargaan best música urbana album di Grammy, Bad Bunny secara terang-terangan menyerukan “ICE out” — merujuk pada Immigration and Customs Enforcement, lembaga imigrasi AS yang kontroversial. Dia menggunakan 2 pidato penerimaannya untuk bicara soal isu imigrasi.
Tahun lalu, Bad Bunny memilih untuk gak membawa tur dunianya ke daratan utama AS. Dalam wawancara dengan majalah i-D, dia mengungkapkan kekhawatiran bahwa penggemarnya bisa jadi target operasi ICE. Bayangkan — seorang artis sebesar Bad Bunny sampai khawatir fansnya bakal ditangkap kalau datang ke konsernya.
Dia juga bilang ada “banyak alasan” kenapa dia gak tampil di AS, dan menegaskan bahwa “gak satupun alasan itu karena kebencian.” Statement yang diplomatik tapi tetap ngena.
Penampilan Pertama di AS Setelah Sekian Lama
Super Bowl kali ini jadi momen spesial karena ini adalah penampilan pertama Bad Bunny di Amerika Serikat — selain show di Puerto Rico — sejak merilis album Debí Tirar Más Fotos (yang artinya “Seharusnya Aku Ambil Lebih Banyak Foto”) tahun lalu.
Album itu sendiri sukses besar dan memenangkan Grammy Award. Jadi comeback-nya ke panggung AS langsung di level Super Bowl itu kayak masuk lewat pintu paling besar yang ada.
Perlu dicatat juga bahwa Puerto Rico punya status unik sebagai wilayah AS yang berpemerintahan sendiri. Warganya adalah warga negara Amerika, tapi mereka gak punya hak suara di pemilihan presiden. Posisi ini sering bikin Puerto Rico jadi semacam “anak tiri” dalam politik AS — dan itu juga jadi konteks penting dari keseluruhan penampilan Bad Bunny.
Reaksi Dunia
Respons terhadap performanya terpecah, seperti yang bisa ditebak. Banyak yang memuji keberaniannya tampil full bahasa Spanyol dan merayakan identitas Latin-nya di panggung terbesar di Amerika. Buat komunitas Latino di AS, momen ini terasa sangat membanggakan dan validating.
Di sisi lain, kritik dari Trump dan pendukungnya menunjukkan betapa terpolarisasinya Amerika saat ini. Sebuah penampilan musik yang pada dasarnya merayakan budaya dan menyerukan persatuan bisa dipandang sebagai “penghinaan” oleh sebagian orang — itu sendiri udah jadi statement tentang kondisi sosial politik di sana.
Yang jelas, apapun pendapat orang soal penampilannya, Bad Bunny udah cetak sejarah. Dia membuktikan bahwa musik gak perlu berbahasa Inggris untuk menggetarkan panggung terbesar di dunia. Dan di tengah semua kebisingan politik, pesan utamanya tetap simpel: cinta lebih kuat dari kebencian, dan kita semua — apapun bahasa dan asal kita — adalah bagian dari Amerika.
14 menit yang bakal dikenang lama.
