Jakarta, Indonesia | Saturday, 23-10-2021

NEWS UPDATE

Bantargebang Overload, DKI Siapkan Sarana Pengelolaan Sampah

Agus | Rabu,08 Sept 2021 - 21:53:37 WIB

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (KDLH-red) DKI Jakarta, Syaripudin/foto Agus citypost

Jakarta, CityPost – Permasalahan sampah DKI Jakarta, saat ini masih terus menjadi pekerjaan rumah Dinas Lingkungan Hidup. Khususnya terkait kapasitas tampung di UPTS Bantargebang yang semakin hari kian menumpuk bahkan overload dan diprediksi pada 2022 mendatang tak sanggup menampung sampah dari Ibu Kota.

Menyikapi hal tersebut, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (KDLH-red) DKI Jakarta, Syaripudin mengatakan pihaknya sejauh ini sudah memikirkan kondisi overloadnya Bantargebang dengan sejumlah antisipasi dan langkah strategis penyelesaiannya, jika tempat pembuangan akhir tidak lagi dapat menampung sampah dari Jakarta.

Sejumlah upaya yang akan dilakukan, kata Syaripudin, salah satunya dengan mengurangi jumlah sampah dari sumbernya dan pihaknya juga akan melakukan pembangunan ITF yang akan dengan tujuan pengelolaan sampah dari DKI Jakarta.

“Pembangunan ITF di empat titik dengan minimal efisiensi pengelolaan sampah sebesar 75% menggunakan teknologi yang sudah terbukti efektif, efisien dan ramah lingkungan,”jelas Syaripudin kepada citypost melalui pesan singkatnya pada Selasa (8/9).

Syaripudin berharap, solusi ITF ini dapat menjadi sarana pengelolaan sampah dengan kapasitas 7.400 ton perharinya di Jakarta.

“Optimalisasi di TPST Bantargebang juga saat ini sedang dilakukan untuk memperpanjang umur manfaatnya diantaranya dengan Landfill mining atau penambangan sampah lama di timbunan sampah TPST Bantargebang dengan tujuan utama adalah mendapatkan lahan baru. Lahan ini kemudian dapat dimanfaatkan Kembali sesuai dengan kebutuhan, termasuk menjadi zona pengurugan sampah,”ujarnya.

Nantinya, menurut Syaripudin. Landfill mining juga akan menjadi sumber energi alternative. Seperti Operasional Pembangkit Listik Tenaga Samapah (PLTSa) Merah Putih di Bantargebang atau teknologi waste to ebnwrgy dengan kapasitas 100 ton/hari yang dapat mengolah sampah baru maupun sampah lama di sana.

Sementara itu, pihaknya juga akan melakukan optimalisasi operasional TPST Bantargebang seperti pembenahan kemiringan dan ketinggian landfill sehingga terhindar dari risiko longsor, kebakaran, dan lain-lain.

Syaripudin menjelaskan dengan beroperasinya ITF ini dan pengurangan sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang, maka outcome yang diharapkan diantaranya adalah pengurangan sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang, pengurangan pencemaran lingkungan di TPST Bantargebang dan pengurangan emisi gas rumah kaca yang bersumber dari gas metana yang diakibatkan oleh penimbunan sampah di landfill.

“Gas metana ini merupakan salah satu jenis Gas Rumah Kaca dengan tingkat bahaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan gas CO2,” tegas Syaripudin.

Selain itu,  efisiensi pengangkutan sampah, dimana jarak pengangkutan sampah akan jauh lebih pendek dibandingkan pengangkutan sampah ke TPST Bantargebang dan untuk mewujudkan sistem waste to energy sehingga meningkatkan persentase pembangkit listrik dengan renewable energy.

Terkait data volume sampah yang masuk ke TPA Bantargebang, Syaripudin mengatakan pengukuran dihitung dari data timbangan sampah yang masuk ke TPST Bantargebang setiap harinya dimana truk sampah yang sudah terdaftar akan memiliki data mengenai kelompok sumber sampah. Maka dari itu dilakukan pengaturan kedatangan truk sampah untuk meminimalisir antrian dan pembuangan sampah di zona. Selain itu, dilakukan pengaturan dan perapihan kemiringan zona sampah secara rutin.

“kesiapan pembangunan ITF yang direncanakan berada di 4 titik yakni di Sunter, Marunda, Cakung-Cilincing dan Duri Kosambi,”katanya.

Syaripudin menjabarkan pembangunan ITF ini dilakukan dengan mekanisme penugasan kepada BUMD yakni PT. Jakarta Propertindo dan Perumda Pembangunan Sarana Jaya, dimana untuk PT Jakpro akan menyelenggarakan ITF Sunter dan Wilayah Layanan Barat, sedangkan Perumda Pembangunan Sarana Jaya akan membangun untuk wilayah layanan Timur dan Selatan Jakarta.

“Titik pembangunan ITF yang sudah pasti adalah ITF Sunter, sedangkan untuk ITF lainnya akan ditentukan saat pemilihan mitra yang dilaksanakan oleh masing-masing BUMD,”tukasnya.

Syaripudin menambahkan, perkembangan saat ini, di keempat ITF sedang tahap persiapan, dimana untuk ITF Sunter sedang dilakukan persiapan pendanaan, ITF Wilayah Layanan Barat sedang dalam perencanaan, dan ITF Timur Selatan sedang dalam proses pemilihan mitra.

"Dengan beroperasinya keempat ITF ini, diharapkan dapat mengurangi sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang hingga 5.000 – 6.000 ton sampah," ungkapnya.

Diketahui, terkait pebagian kawasan yang diwajibkan mengelola sampahnya secara mandiri sejauh ini sudah diatur oleh Perda 3/2013 Per 7 September 2021.

“Terdapat 382 kawasan di Provinsi DKI Jakarta yang telah mengelola sampahnya secara mandiri maupun dikerjasamakan dengan penyedia jasa bidang kebersihan,”ujarnya.

Plt KDLH ini juga menerangkan bahwa hingga saat ini sosialisasi kepada kawasan untuk melakukan pengelolaan sampah mandiri masih terus berjalan. Data terkait kawasan mandiri dapat diakses dalam website https://upstdlh.id/wastemanagement/data.

Syaripudin menegaskan untuk implementasi pengurangan sampah pihaknya juga melibatkan peran aktif masyarakat dan semua sudah diatur dalamPergub 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga.

“Masyarakat dapat berperan aktif memilah sampah sejak di dapur minimal menjadi 4 jenis yaitu sampah mudah terurai seperti sisa makanan, sisa sayuran dan daun kering. Sampah material daur ulang seperti sampah plastik, sampah logam.  Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Rumah Tangga seperti bekas pengharum ruangan, pembersih kamar mandi, pembasmi serangga, baterai, sampah elektronik dan sampah Residu seperti bekas pembalut, popok, puntung rokok. Untuk sampah mudah terurai bisa digunakan sebagai kompos atau Biokonversi Maggot BSF,”pungkasnya. (Agus)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar