Jakarta, Indonesia | Saturday, 23-10-2021

NEWS UPDATE

Beban Berat Swasta Mengelola Kebun Raya Bogor

Penulis: Sunu Probo Baskoro (Dosen STAI Haji Agus Salim) | Rabu,16 Jun 2021 - 21:53:55 WIB

Gerbang Kebun Raya Bogor (Ilustrasi) foto ist SSV Youtube Ris Mandala

Sejak Januari 2020, pengelolaan Kebun Raya Bogor secara resmi berpindah. Sebelumnya Kebun Raya Bogor dikeloala oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau biasa disebut LIPI namun mulai awal 2020 pengelolaan Kebun Raya Bogor berpindah ke pihak swasta. Group Dyandra Media International secara resmi menjadi pengelola baru bukan hanya Kebun Raya Bogor namun juga kebun-kebun raya yang sebelumnya dikelola oleh LIPI, yakni Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi dan Kebun Raya Eka Karya Bali. 

Corporate Secretary Dyandra Media International menyebutkan bahwa dengan pengelolaan oleh pihak swasta diharapkan kebun raya menjadi tempat rekreasi yang menarik untuk wisata edukasi dan konservasi. Dalam kerjasama itu juga ditekankan bahwa pihak swasta akan meningkatkan pelayanan serta fungsi Kebun Raya. Sebelumnya pihak Dyandra Media International juga mengelola Faunaland di Ancol.

Perpindahan tangan pengelolaan kepada pihak swasta kini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Kekhawatiran timbul dikarenakan pihak swasta hanya menitik beratkan kebun raya sebatas tempat rekreasi dan wisata tanpa memperdulikan tujuan dan fungsi utama kebun raya. Kebun Raya Bogor yang berdiri sejak 1817 merupakan tempat konservasi tumbuhan. 

Kebun Raya Bogor merupakan pusat penelitian botani di Asia Tenggara. Kebun Raya Bogor juga merupakan Pusat Konservasi Tumbuhan dibawah kedeputian Ilmu Pengetahuan Ilmu Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pusat Konservasi Tumbuhan memiliki tugas penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman pemberian bimbingan teknis, penyusunan rencana dan program, pelaksanaan penelitian bidang konservasi exsitu tumbuhan tropika serta evaluasi dan penyusunan laporan. 

Sebagai pusat konservasi tumbuhan, KRB diantaranya melakukan kegiatan, konservasi exsitu yakni melakukan eksplorasi tumbuhan di kawasan hutan, mendata atau regristrasi, mengkoleksi dan melestarikannya. Penelitian meliputi bidang: a) taksonomi, yaitu memberi kepastian nama tanaman atau sertifikasi, inventarisasi dan evaluasi; b) biosistematik, yaitu mempelajari hubungan kekerabatan antara tumbuhan; c) hortikultura, meliputi penelitian adaptasi tanaman, cara budidaya dan pengembangan ilmu pertanaman, Pendidikan, terutama di bidang ilmu botani, pertamanan dan lingkungan hidup, pariwisata, penemuan serat pengumpulan jenis-jenis tanaman langka yang hamper punah di Indonesia.

Koleksi Kebun Raya Bogor terdiri atas 222 famili, 1.259 marga, 3.423 jenis, 13.563 spesimen yang ditanam di atas areal kebun seluas 87 ha. Beberapa jenis koleksi merupakan koleksi unik, spesifik dan langka seperti tanaman tua yang berumur lebih dari 100 tahun, tanaman eksotik, atraktif seperti pohon raja, teratai raksasa, bunga bangkai raksasa, spesimen tipe, koleksi anggrek, koleksi palem, koleksi polong-polongan.

Dengan fungsi Kebun Raya yang begitu berat mampukah pihak swasta yang berorientasi kepada keuntungan meningkatkan fungsi dari Kebun Raya Bogor sebagai Pusat Konservasi Tumbuhan dan Pusat Penelitian Botani di Asia Tenggara. Persoalan lain yang harus dihadapi oleh pihak swasta kala mengelola Kebun Raya Bogor adalah adanya kerusakan pohon-pohon di Kebun Raya Bogor yang apabila tidak diatasi akan mengalami kepunahan. 

Kerusakan pohon di Kebun Raya Bogor sudah terdeteksi sejak 2006 lalu. Sebanyak 389 kasus atau 35,24 % kasus kerusakan pohon di Kebun Raya Bogor merupakan tipe kerusakan kanker. Tipe kerusakan ini dapat terjadi pada bagian-bagian berkayu, pada kulit batang, cabang atau akar terdapat bagian yang mati dan mengering, berbatas tegas, mengendap dan pecah-pecah. Tipe kerusakan kedua yang cukup besar adalah tipe kerusakan Heart-rot. Sebanyak 464 kasus atau 42,03% dijumpai pada pohon-pohon di Kebun Raya Bogor. Tipe kerusakan Heart-rot menyebabkan meningkatnya resiko penurunan penyerapan air, unsur hara dan kerusakan sehingga pohon mudah tumbang ketika tertiup angin.

Bila pihak swasta bersikeras mengelola Kebun Raya Bogor, mereka harus membuka mata adanya kerusakan-kerusakan pohon itu dan berkomitmen untuk memulihkannya. Bila pemulihan pohon-pohon di Kebun Raya Bogor diabaikan maka ancaman kepunahan akan terus terjadi. Dari 104.761 spesimen total koleksi kebun raya, 152 diantaranya adalah jenis-jenis tumbuhan yang masuk dalam kategori threatened atau terancam.

Memasuki tahun kedua pengelolaan kebun raya oleh pihak swasta terdengar kabar tidak sedap. Pada Januari lalu sebanyak 18 (delapan belas) karyawan Kebun Raya Bogor diberhentikan tanpa diberi pesangon. Adanya kejadian ini menandakan pengelolaan kebun raya dilakukan tidak professional. Masyarakat berkeinginan pengelolaan kebun raya oleh swasta adalah bentuk kerjasama menguntungkan dimana bidang pelayanan yang dikelola swasta bukan hanya mampu memberikan penghasilan memadai juga mampu menunjang kegiatan konservasi dan riset. 


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar