Jakarta, Indonesia | Monday, 21-06-2021

NEWS UPDATE

Kekerasan di Myanmar Picu Keprihatinan Pemerintah Thailand

Andre | Rabu,09 Jun 2021 - 21:18:41 WIB

Aksi demonstrasi tolak kudeta militer di Myanmar (Ilustrasi Gambar)/foto ist SSV Youtube AFP News Agency

CityPost – Pasca aksi kudeta militerterjadi, hingga kini Myanmar terus bergejolak dan diwarnai dengan sejumlah kekerasan yang terjadi dinegara-negara bagian negara tersebut. Sikap keras dan brutal aparat keamanan dalam menyikapi para demonstran anti kudeta terus menjadi sorotan masyarakat dunia.

Kendati semula tekanan dan peringatan masyarakat dunia diabaikan oleh pihak Junta Militer Myanmar, namun kini mereka mulai memberikan sinyalemen untuk mengindahkan Konsensus Lima Poin yang disepakati diantara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada April lalu. Konsensus itu menghasilkan seruan diakhirinya kekerasan, pembicaraan politik dan penunjukkan utusan khusus regional.

Menyikapi tragedy Myanmar, juru bicara kementerian luar negeri Thailand Tanee Sangrat mengatakan pihaknya prihatin dengan perkembangan yang terjadi dinegara tetangganya. Mereka juga ikut menyerukan agar Myanmar menghentikan aksi kekerasan, membebaskan semua tahanan agar konsensus lima poin bisa di implementasikan dengan kongkret.

Seperti yang dilansir melalui Al Jazeera disebutkan bahwa sejauh ini pihak militer telah gagal untuk mencapai kehendak mereka dalam perebutan kekuasaan dari pemimpin sipil Aung San Suu Kyi yang saat ini telah ditahan bersama 4.500 orang lainnya.

Kelompok Hak Asasi setempat mengatakan, sejak kudeta militer pada 1 Februari lalu berlangsung sudah menelan korban jiwa sebanyak 847 orang. Namun, jumlah itu dibantah oleh pihak militer.

Disampaikan bahwa bermula dari serangkaian aksi demonstrasi penolakan kudeta, protes harian itu kini telah berkembang dan berubah disejumlah negara bagian Myanmar menjadi pemberontakan bersenjata dan memicu mencuatnya kasus lama konflik etnis yang pernah berlangsung selama satu dekade.

Pemerintah Thailand sendiri mengaku khawatir jika konflik di Myanmar terus berkepanjangan, pasalnya mereka memiliki perbatasan yang lebih panjang dengan Myanmar yang bias memicu terjadinya arus pengungsian.

“Banyak dari apa yang telah dilakukan Thailand mungkin tidak dipublikasikan, karena kami percaya bahwa diplomasi yang tenang dan rahasia antara tetangga akan lebih efektif dan sejalan dengan diplomasi tradisional Thailand,” ujar Tanee. (And/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar