Nama Mohan Hazian mendadak jadi sorotan publik. Bukan karena pencapaian bisnisnya, tapi karena dugaan pelecehan seksual yang bikin netizen murka. Pria yang dikenal sebagai otak di balik brand streetwear Thanksinsomnia ini kini harus menghadapi gelombang kecaman masif di media sosial.
Semua bermula dari sebuah utas panjang yang diunggah di platform X pada Minggu, 8 Februari 2026. Akun @aarummanis milik seorang perempuan berinisial Saa membagikan pengalaman traumatis yang diklaim terjadi saat dirinya bekerja. Utas itu langsung viral dan memantik reaksi keras dari warganet.
Kronologi Dugaan Pelecehan yang Bikin Geger
Menurut penuturan Saa, kejadian bermula pada Mei 2025. Saat itu, ia menerima tawaran sebagai talent untuk sesi foto salah satu brand lokal milik sang pelaku. Awalnya semua berjalan normal, pemotretan berlangsung profesional.
Namun situasi berubah drastis setelah sesi foto berakhir. Saa mengaku dibawa kembali ke lokasi pemotretan dan ditinggalkan berdua saja dengan pelaku. Di situlah, menurut pengakuannya, pelaku mulai melakukan tindakan pelecehan fisik secara agresif. Saa menegaskan bahwa dirinya sudah memberikan penolakan tegas dan berusaha melawan.
Yang membuat situasi makin menyakitkan bagi korban, belakangan ia mengetahui bahwa pelaku ternyata sudah menikah dan punya keluarga. Fakta ini menambah lapisan trauma yang harus ditanggung Saa.
Korban Lain Mulai Buka Suara
Setelah utas Saa menyebar luas, dampaknya ternyata lebih besar dari yang dibayangkan. Setidaknya 3 orang lain kemudian menghubungi Saa secara langsung untuk berbagi cerita serupa. Mereka mengaku mengalami perlakuan tidak pantas dari orang yang sama.
Yang paling mengkhawatirkan, salah satu dari korban yang melapor ternyata masih berusia 17 tahun saat kejadian. Temuan ini memunculkan dugaan kuat bahwa ada pola berulang dalam tindakan yang dituduhkan, bukan sekadar insiden tunggal.
Meski dalam unggahan awalnya, Saa hanya menggunakan inisial M untuk menyebut pelaku, warganet dengan cepat mengaitkan dugaan tersebut ke Mohan Hazian. Petunjuk digitalnya cukup jelas — sejumlah konten yang melibatkan korban diketahui telah dihapus dari akun sang pengusaha.
Akibatnya, kolom komentar Instagram Mohan Hazian langsung dibanjiri komentar pedas. Warganet menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban atas tuduhan serius ini. Beberapa brand yang pernah berkolaborasi dengannya juga ikut terkena dampak, dengan netizen mendesak mereka untuk memutus kerja sama.
Latar Belakang Mohan Hazian: Dari Lampung ke Jakarta
Sebelum namanya viral karena kontroversi ini, Mohan Hazian sebenarnya dikenal sebagai sosok inspiratif di industri fashion lokal. Pria kelahiran Lampung, 4 Februari 1990 ini menjalani masa kecil yang jauh dari kata mudah.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube CONNX, Mohan pernah membuka cerita soal masa lalunya yang cukup kelam. Sejak usia sangat muda, ia sudah harus pindah ke Jakarta bersama sang ayah. Keluarganya mengalami perpecahan alias broken home, yang memaksanya berpisah dari ibunya sejak dini.
Kehidupan di Jakarta sama sekali nggak glamor. Mohan dan ayahnya tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Bahkan, ia belum sempat masuk TK saat harus menghadapi realita hidup yang keras. Mereka pernah tinggal di kawasan dekat rel kereta api, jauh dari fasilitas layak.
Salah satu kenangan masa kecil yang sering diceritakan Mohan adalah soal membuang sampah. Jarak tempat pembuangan sangat jauh dari tempat tinggalnya karena belum ada layanan pengangkutan sampah seperti sekarang. Hal kecil yang buat kebanyakan orang terasa sepele, tapi jadi bagian dari perjuangan sehari-hari bocah kecil itu.
Masa Kecil Penuh Perjuangan
Mohan tinggal bersama ayahnya sampai jenjang SD. Setelah itu, ia pindah ke Lampung untuk tinggal bersama ibunya selama masa SMP. Kemudian, ia balik lagi ke Jakarta buat menyelesaikan pendidikan SMA. Bolak-balik antara 2 kota ini jadi bagian dari perjalanan hidupnya yang nggak stabil.
Yang bikin kisah Mohan sering diangkat media adalah etos kerjanya sejak kecil. Dia mengaku sudah terbiasa mencari uang sendiri sejak masih duduk di bangku SD. Saat anak-anak seusianya sibuk main, Mohan justru harus mengerjakan pekerjaan yang biasanya dilakukan orang dewasa.
Prinsip yang selalu dipegang Mohan adalah kerja keras nggak akan pernah mengkhianati hasil. Filosofi ini yang kemudian membentuk mentalitasnya sebagai pengusaha di kemudian hari. Semua pengalaman pahit, mulai dari keluarga yang berantakan hingga kehidupan ekonomi pas-pasan, justru jadi bahan bakar ambisinya.
Awal Mula Thanksinsomnia
Sebelum sukses membangun Thanksinsomnia, perjalanan karier Mohan Hazian penuh lika-liku. Mengutip Media Indonesia, kisah hidupnya kerap dijadikan contoh inspiratif tentang bagaimana seseorang bisa bangkit dari keterpurukan.
Di usia muda, Mohan memberanikan diri merantau ke Jakarta tanpa bekal yang memadai. Pendidikan formalnya juga nggak tinggi. Tapi tekadnya untuk sukses nggak bisa dianggap remeh.
Untuk bertahan hidup di ibu kota, Mohan menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Mulai dari jadi pelayan restoran, menjaga toko pakaian, sampai jualan rokok keliling. Semua dilakoni tanpa banyak mengeluh. Pengalaman-pengalaman inilah yang kemudian menempa mentalnya sebelum akhirnya terjun ke dunia fashion.
Dari situ, Mohan pelan-pelan mulai membangun Thanksinsomnia. Brand streetwear ini nggak langsung besar dalam semalam. Butuh proses panjang, mulai dari desain yang dikerjakan sendiri, pemasaran via media sosial, hingga membangun komunitas loyal yang percaya dengan visi brand-nya.
Thanksinsomnia: Brand Lokal yang Mendunia
Thanksinsomnia tumbuh jadi salah satu brand streetwear paling dikenal di Indonesia. Keberhasilannya nggak lepas dari strategi branding yang kuat dan kemampuan Mohan membaca tren anak muda.
Selain berbisnis fashion, Mohan juga dikenal sebagai penulis dan konten kreator. Ia aktif membagikan konten soal gaya hidup, motivasi, dan tentu saja fashion di berbagai platform media sosial. Kombinasi antara personal branding yang kuat dan produk yang relevan dengan target pasar bikin Thanksinsomnia terus berkembang.
Buku yang ditulis Mohan juga sempat mendapat respons positif dari pembaca. Namun, imbas dari kasus dugaan pelecehan ini, buku tersebut akhirnya resmi ditarik dari peredaran. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan publik yang semakin besar.
Dampak Kasus Terhadap Karier dan Brand
Kasus ini jelas berdampak besar terhadap semua yang sudah dibangun Mohan selama bertahun-tahun. Thanksinsomnia yang tadinya jadi kebanggaan industri fashion lokal, kini ikut kena getahnya.
Banyak konsumen yang menyatakan akan memboikot produk Thanksinsomnia. Di media sosial, tagar-tagar terkait kasus ini terus bergulir dan menjadi trending. Tekanan dari publik nggak hanya menyasar Mohan secara personal, tapi juga ekosistem bisnis yang sudah ia bangun.
Situasi ini jadi pengingat bahwa di era digital, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam hitungan jam. Apalagi kalau menyangkut isu sensitif seperti kekerasan seksual yang memang nggak bisa ditoleransi.
Respons Publik dan Desakan Hukum
Warganet nggak cuma berhenti di kolom komentar. Banyak yang mendesak agar kasus ini dibawa ke ranah hukum. Mereka menuntut agar pihak berwenang segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap semua tuduhan yang dilayangkan.
Beberapa aktivis dan pegiat isu perempuan juga angkat bicara. Mereka mendorong korban-korban untuk berani melapor secara resmi ke kepolisian. Dukungan moral dari netizen dinilai penting, tapi proses hukum tetap jadi jalur utama yang harus ditempuh untuk mendapatkan keadilan.
Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas soal keamanan di industri kreatif. Banyak talent, model, dan pekerja kreatif yang ternyata rentan mengalami pelecehan di tempat kerja, terutama saat berada dalam posisi tawar yang lemah.
Pelajaran dari Kasus Ini
Terlepas dari hasil akhir proses hukum nanti, kasus yang menjerat nama Mohan Hazian ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, keberanian korban untuk bersuara itu krusial. Tanpa utas dari Saa, mungkin korban-korban lain nggak akan pernah berani buka mulut.
Kedua, kesuksesan dan citra publik yang baik nggak bisa jadi tameng untuk perilaku buruk. Nggak peduli seberapa inspiratif kisah hidup seseorang, kalau memang terbukti melakukan kejahatan, ya harus tetap diproses sesuai hukum yang berlaku.
Ketiga, industri kreatif perlu punya mekanisme perlindungan yang lebih baik buat para pekerjanya. Nggak boleh ada lagi cerita talent yang jadi korban pelecehan tanpa ada jalur pelaporan yang aman dan terpercaya.
Kasus ini masih terus berkembang dan publik menanti bagaimana kelanjutannya di ranah hukum. Yang jelas, suara korban sudah terdengar, dan sekarang giliran sistem hukum yang harus bekerja.
